Subscribe:
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Wathan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Wathan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 November 2013

Mengenang Syekh Yasin al-Fadani Sahabat Hamzanwadi

Mengenang Syekh Yasin al-Fadani

Syekh Muhammad Yasin Bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Mekah pada tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. beliau adalah ulama besar yang pernah sekolah di Madrasah Shaulatiyyah. Beliau adalah pencetus ide berdirinya Madrasah Darul-Ulũm sekaligus menjadi murid pertama madrasah itu.

Konon sebab tercetusnya ide membangun Madrasah tersebut disebabkan karena tindakan dan perlakuan direktur Madrasah Shaulatiyyah yang sangat menyinggung (hususnya) pelajar yang kebanyakan dari Asia Tenggara saat itu. Hal ini terbukti dengan berpindahnya 120 orang pelajar dari Shaulatiyyah ke Madrasah Darul-Ulum yang baru didirikan. Ini hampir tidak pernah dialami oleh Madrasah-madrasah yang baru dibuka mendapat murid yang begitu banyak sebagaimana Darul-Ulũm.

Dalam sebuah situs(1) dinyatakan bahwa pada tahun 1934, karena suatu konflik yang menyangkut kebanggaan nasional orang Indonesia, guru dan murid 'Jawah' telah keluar dari Shaulatiyah dan mendirikan madrasah Darul Ulum di Makkah.

Mengenai kesehari-harian beliau, dari cerita yang saya dengar dari ayah saya, yaitu Ustaz Sukarnawadi H. Husnuddu’at: “Syekh Yasin orangnya santai, sederhana, tidak menampakkan diri, sering muncul menggunakan kaos biasa, sarung, dan sering nongkrong di "Gahwaji" untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)… tak seorangpun yang berani mencela beliau karena kekayaan ilmu yang beliau miliki… Yang ingkar kepada beliau hanyalah orang-orang yang lebih mengutamakan tampang zahir daripada yang bathin…

PUJIAN PARA ULAMA:

Syekh Zakaria Abdullah Bila teman dekat pendiri Nahdlatul Wathan yaitu Syekh M. Zainuddin pernah berkata, “waktu saya mengajar Qawa’idul-Fiqhi di Shaulatiyyah, seringkali mendapat kesulitan yang memaksa saya membolak balik kitab-kitab yang besar untuk memecahkan kesulitan tersebut. Namun setelah terbit kitab Al-Fawa’idul-Janiah karangan Syekh Yasin... menjadi mudahlah semua itu, dan ringanlah beban dalam mengajar.

Seorang ahli Hadits bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari pernah memuji dan menjuluki beliau sebagai kebanggaan Ulama Haramain dan sebagai Muhaddits.

Doctor Abdul Wahhab bin Abu Sulaiman (Dosen Dirasatul ‘Ulya Universitas Ummul Qura) di dalam kitab: الجواهر الثمينة في بيان أدلة عالم المدينة berkata: Syekh Yasin adalah Muhaddits, Faqih, Mudir Madrasah Darul-Ulum, pengarang banyak kitab dan salah satu Ulama Masjid Al-Haram...

Syekh Umar Abdul-Jabbar berkata didalam surat kabar Al-Bilad (jumat 24 Dzulqaidah 1379H/ 1960M): “...bahkan yang terbesar dari amal bakti Syekh Yasin adalah membuka madrasah putri pada tahun 1362H. Dimana dalam perjalanannya selalu ada rintangan, namun beliau dapat mengatasinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan…

Assayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Ahdal sebagai Mufti negeri Murawah Yaman saat itu, mengarang sebuah syiir yang panjang husus untuk memuji Syekh Yasin Al-Fadani Berikut saya nukilkan satu bait saja yang berbunyi:

أنت في العلم والمعاني فريد...... وبعقد الفخار أنت الوحيد
“Engkau tak ada taranya dalam ilmu dan hakekat, Dibangun orang kejayaan kaulah satu-satunya yang jaya”

Doctor Yusuf Abdurrazzaq sebagai dosen kuliah Ushuluddin Universitas Al-Azhar cairo juga memuji beliau dengan perkataan dan syiir yang panjang, saya nukilkan satu bait saja yang bunyinya:

أنت فينا بقية من كرام......لا ترى العين مثلهم إنسانا

“Engkau di tengah kami orang terpilih dari orang terhormat, tak pernah mata melihat manusia seumpama mereka.”
Ustaz Fadhal bin M. bin Iwadh Attarimi-pun berkata:
فيا طالب العلم لب نداء......ياسين وافرح بهذا القرى

“Wahai pencari ilmu sambutlah panggilan Yasin, bergembiralah dengan sajian yang ia sajikan,”

Doctor Ali Jum’ah yang menjabat sebagai Mufti Mesir dalam kitab Hasyiah Al-Imam Al-Baijuri Ala Jauharatittauhid yang ditahqiqnya, pada halaman 8 mengaku pernah menerima Ijazah Sanad Hadits Hasyiah tersebut dari Syekh Yasin yang digelarinya sebagai مسند الدنيا Musnid Addunia…

Al-Habib Assayyid Segaf bin Muhammad Assagaf seorang tokoh pendidik di Hadramaut (pada tahun 1373H) menceritakan kekaguman beliau terhadap Syekh Yasin, dan menjulukinya sabagai "Sayuthiyyu Zamanihi". Beliau juga mengarang sebuah syiir untuk memuji beliau, berikut saya nukilkan dua bait saja yang bunyinya sebagai berikut:

لله درك يا ياسين من رجل......أم القرى أنت قاضيها ومفتيها

في كل فن وموضوع لقد كتبا ......يداك ما أثلج الألباب يحديها

“Bagus perbuatanmu hai Yasin engkau seorang tokoh, dari Ummul Qura engkau Qhadi dan Muftinya.”
“Setiap pandan judul ilmu tertulis dengan dua tanganmu, Alangkah sejuknya akal pikiran rasa terhibur olehnya.”

Assayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki sebagai guru Madrasah Al-Falah dan Masjid Al-Haram, Syekh M. Mamduh Al-Mishri dan Al-Habib Ali bin Syekh Balfaqih Siun Hadramaut dan Ulama lainnya, pernah memuji karangan-karangan beliau…

Doctor Yahya Al-Gautsani bercerita, pernah ia menghadiri majlis Syekh Yasin untuk mengkhatam Sunan Abu Daud. Ketika itu hadir pula Muhaddits Al-Magrib Syekh Sayyid Abdullah bin Asshiddiq Al-Gumari dan Syekh Abdussubhan Al-Barmawi dan Syekh Abdul-Fattah Rawah.

H.M.Abrar Dahlan berkata: “yang membuat beliau lepas dari sorotan publikasi ialah karena ia telah menjadi lambang Ulama Saudi yang “bukan Wahabi” yang tersisa di Makkah. Walaupun begitu ia diakui juga oleh ulama Wahabi sebagai Ulama yang bersih dan tidak pernah menyerang kaum Wahabi… Seorang tokoh agama Najid dari Ibukota Riyadh (Pusat Paham Wahabi) yaitu Jasim bin Sulaiman Addausari pada tahun 1406H pernah berkata:

أبلغوا مني سلاما من صبا نجد......ذكيالأبي الفيض فداني

مسند الوقت بعيد عن نزول......هابط أما لما يعلو فداني

فدى أسر الروايات فلوتنطق......لقالت: علم الدين فداني


KARYA TULIS & MURID-MURID BELIAU:

Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang Ilmu-ilmu yang lain… di antara karangan beliau adalah: al-Arba'un al-Buldaniyyah, al-Arba'un Haditsan Min Arba'ina Kitaban An Arba'ina Syaikhan, Bulug al-Amani, Arraudh al-Fatih, dan lain-lain...

Di antara murid-murid yang pernah berguru dan mengambil Ijazah sanad-sanad Hadits dari beliau adalah Al-Habib Umar bin Muhammad (Yaman), Syekh M. Ali Asshabuni (Syam), Doctor M. Hasan Addimasyqi, Syekh Isma’il Zain Alyamani, Doctor Ali Jum’ah (Mesir), Syekh Hasan Qathirji, Tuan Guru H. M. Zaini Abdul-Ghani (Kalimantan) dll…

Dan di antara murid-murid beliau yang di samping mengambil Sanad Hadits, mendapatkan Ijazah ‘Ammah dan Khasshah, juga diberi izin untuk mengajar di Madrasah Darul-Ulum adalah: H. Sayyid Hamid Al-Kaff, Dr. Muslim Nasution, H.Ahmad Damanhuri, H.M.Yusuf Hasyim, H.M. Abrar Dahlan, Dr. Sayyid Aqil Husain Al Munawwar, Ayah saya sendiri yaitu Ustaz Sukarnawadi KH. Husnuddu’at dll...

Ayah saya pernah bercerita, seseorang bernama H.Abdul-Aziz asal Jeruwaru Lombok NTB pernah mendatangi Syekh Yasin untuk meminta bai’at, izin serta restu untuk menjadi Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah… ketika itu Syekh Yasin memberi satu syarat, yaitu, ayah saya harus turut dibai’at, karena ayah saya di samping menjadi Guru yang lama mengajar di Madrasah Darul-Ulum, (dari tahun 1978 sampai 1990) juga sebagai salah satu dari sekian murid yang selalu diberikan bimbingan dan perhatian khusus… maka yang mendapat izin dari beliau untuk menjadi Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah yang berasal dari Lombok saat itu hanyalah Ayah saya dan H.Abdul Aziz...

Ayah saya sebagai warga, bahkan tokoh NW (ketika pulang ke lombok) menceritakan hal itu kepada pendiri Nahdlatul Wathan, yaitu Syekh M. Zainuddin, dan beliaupun tidak mengingkari hal tersebut, bahkan beliau merestui, memberikan Ijazah dan doa yang khusus serta harapan agar di samping itu tetap berjuang membela NW…

KEKERAMATAN BELIAU:

Seseorang bernama Zakariyya Thalib asal Syiria pernah mendatangi rumah Syekh Yasin Pada hari jumat. Ketika Azan jumat dikumandangkan, Syekh Yasin masih saja di rumah, ahirnya Zakariyya keluar dan solat di masjid terdekat. Seusai solat jum’at, ia menemui seorang kawan, Zakariyyapun bercerita pada temannya bahwa Syekh Yasin ra. tidak solat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata temannya, “kami sama-sama Syekh solat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…


H.M.Abrar Dahlan bercerita, suatu hari Syekh Yasin pernah menyuruh saya membikin Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakaudari buah-buahan/rokok teradisi bangsa arab). Setalah saya bikinkan dan syekh mulai meminum teh, saya keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali, saya melihat Syekh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari masjid.

Dikisahkan ketika K.H.Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, beliau menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, beliau menerima sepucuk surat dari Syekh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan K.H.Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..!

Ketika ayah saya tamat Darul-Uulum (Aliah), beliau dilarang oleh Syekh Yasin untuk melanjutkan studinya di Universitas manapun, ayah saya diperintahkan untuk mengabdi di Darul-Ulum. Sedangkan mata pelajaran yang pernah dipegang oleh ayah saya sejak tahun 1978 hingga 1990 adalah Hadits, Fiqih, Tauhid, Tarikh dan Geografi. Di samping itu Syekh Yasin pernah berdo’a untuk ayah saya agar menjadi seorang penulis… kekeramatan do’a beliau dapat dirasakan sendiri oleh ayah saya. Walaupun sibuk dalam pekerjaannya sebagai guru dan pegawai di kantor, namun beliau selalu menyempatkan diri untuk menulis. Dan kini tulisan beliau sudah mencapai 24 judul. Yang sudah dicetak sampai saat ini baru 12 judul saja… Ayah saya berkata pada saya, “ini berkat do’a restu Syekh Yasin dan Syekh Zainuddin” Oleh karena itu Ayah saya berpesan agar kami di Mesir, juga mencari seorang guru yang benar-benar pewaris Nabi, agar mendapatkan barokah do’a restu serta barokah ilmunya...

H.Mukhtaruddin asal Palembang bercerita,      pernah ketika pak Soeharto sedang sakit mata, beliau mengirim satu pesawat khusus untuk menjemput Syekh Yasin. Ahirnya pak Soehartopun sembuh berkat do’a beliau. Kisah ini selanjutnya didengar sendiri oleh ayah saya dari Syekh Yasin.

Semoga Allah swt. merahmati beliau, amin ya Rabbal-Alamin….

________________________________________________________

(*)Ayahanda Ustaz Sukarnawadi H.Husnuddu’at dan buku “Riwayat Singkat” karangan H.M.Abrar Dahlan adalah rujukan utama saya dalam penulisan ini...

(*)Penulis pernah sekolah selama satu tahun di kelas 1 Madrasah Ibtida’iyyah Darul-Ulum Makkah, kemudian pindah ke Madrasah Syua’ul-Ma’rifah Aziziyyah Makkah…

(sumber : http://solahnawadi.blogspot.com/2007/06/yasin-padang.html )
Read More..

Kamis, 31 Oktober 2013

Radio Hamzanwadi (RHN) Live Streaming

Sebagai Organisasi Islam Terbesar di Nusa Tenggara Barat, Nahdlatul Wathan harus mampu menjadi Inspirator dan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan Masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Namun dalam pelaksanaannya Nahdlatul Wathan memiliki keterbatasan dalam menyebarkan Dakwah. Beberapa terobosan baru sudah dilakukan salah satunya Melalui media udara yaitu Radio yang diberi nama Radio Hamzanwadi (RHN) yang mengudara pada gelombang 107 FM namun masih juga belum mampu meanjangkau Warga Nahdlatul Wathan yang berada jauh dari Pusat Nahdlatul Wathan. Seiring dengan waktu dan perkembangan, penyebaran Kader Nahdlatul Wathan kini hingga ke manca negara. dengan perkembangan tersebut RHN ternyata juga memberikan perhatian khusus kepada Warga Nahdlatul Wathan yang jauh dari Pusat Nahdlatul Wathan. Oleh karena itu untuk mengobati rindu Warga Nahdlatul Wathan yang berada sangat jauh dari Pusat Nahdlatul Wathan kini Radio Hamzanwadi membuat RHN Live Streaming yang beralamat di di http://rhn.hamzanwadi.ac.id sehingga Bisa di dengar oleh Warga Nahdlatul Wathan di mancanegara. RHN Live Streaming juga bisa di dengar di blog ini melaui Widget sebelah kanan.

 

Read More..

Rabu, 30 Oktober 2013

Asas - Asas Nahdlatul Wathan


Asas Organisasi Nahdlatul Wathan sejak didirikan sampai muktamar ke-8 tahun 1986 adalah Islam Ahlusunnah wal Jama’ah. sedangkan sejak muktamr ke-8 tahun 1986 Asas Organisasi Nahdlatul Wathan adalah Pancasila. Perubahan Asas ini dimaksudkan untuk menyesuaikan diri dengan peraturan yang berlaku di Negara Republik Indonesia, yaitu Undang-Undang No 8 tahun 1985. namun yang menjadi paham keagamaan adalah tetap Islam Ahlusunnah Wal jama’ah.

    Adapun tujuan Organisasi Nahdlatul adalah I’la’u kalimatillah ( meninggikan kalimatullah ) wa’izzul Islam wal Muslimin ( kejayaan Islam dan kaum Muslimin ) dan keselamatan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sedangkan Lambang Organisasi Nahdlatul Wathan adalah “Bulan Bintang bersinar Lima “. Warna gambar putih dan warna dasar hjau. adapun makna lambang tersebut adalah :
1. Bulan melambangkan Islam
2. Bintang melambangkan iman dan taqwa
3. Sinar lima melambangkan rukun Islam
4. Warna gambar putih melambangkan Ikhlas dan istiqamah
5. Warna dasar hijau melambangkan Selamat dunia dan akhirat

Lambang Nahdlatul Wathan ini dicantumkan pada bendera, setempel dan atribut Oraganisasi lainnya 
Azas, Aqidah dan Tujuan

Nahdlatul Wathan sebagai organisasi kemasyarakatan melaksanakan segala amal usaha dan kegiatannya sesuai dengan azas organisasi. Sedangkan sebagai organisasi keagamaan islam, Nahdlatul Wathan menganut dan menerapkan syariat islam sesuai aqidahnya.

Azas dan aqidah organisasi merupakan landasan perjuangan organisasi dalam mencapai tujuannya. Pasal 2 Anggaran Dasar Nahdlatul Wathan menetapkan :

 Azas : Nahdlatul Wathan berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, keadilan social bagi Seluruh rakyat Indonesia.
 Aqidah : Nahdlatul Wathan beraqidah Islam Ahlusunnah Wal Jamaah ala Mazhabil Imam Syafii RA.
 Tujuan : Liâillai Kalimatillah Waizzil Islam Wal Muslimin dalam rangka mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Potensi dan Sasaran Pembinaan
    Dalam lingkungan Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Nusa Tenggara Barat potensi yang ada merupakan sasaran pembinaan yang akan dilaksanakan melalui serangkaian program dan rencana kerja.

 Dalam bidang keorganisasian, potensi yang dimiliki oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Nusa Tenggara Barat adalah :
1. PD NW Kota Mataram beserta 3 cabang.
2. PD NW Lombok Barat beserta 15 cabang.
3. PD NW Lombok Tengah beserta 12 cabang.
4. PD NW Lombok Timur beserta 20 cabang.
5. PD NW Sumbawa.
6. PD NW Dompu.
7. PD NW Bima.

Didalam tubuh organisasi NW terdapat badan-badan otonom yang seasas. Adapun Badan otonom yang ada pada Tingkat Wilayah di Nusa Tenggara Barat adalah :
1. Pimpinan Wilayah Muslimat NW;
2. Pimpinan Wilayah Pemuda NW;
3. Koordinator Wilayah HIMMAH NW;
4. Pimpinan Wilayah IPNW.

Dalam bidang pendidikan Potensi Pesantren/Madrasah Nahdlatul Wathan di Nusa Tenggara Barat mencapai 29 buah pada Tingkat TK/Raudatul Atfal atau sekitar 8,5 % dari 340 buah RA di NTB. Selanjutnya pada Tingkat Madrasah Ibtidaiyah mencapai 299 buah atau sekitar 58,5 % dari Seluruh Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) yang ada di NTB sebanyak 511 buah. Untuk Tingkat Tsanawiyah terdapat 202 buah madrasah atau 46,1 % dari Seluruh Madrasah Tsanawiyah Swasta di NTB sekitar 438 buah. Sedangkan pada Tingkat Madrasah Aliyah, terdapat 80 buah madrasah atau sekitar 41,6 % dari jumlah Madrasah Aliyah Swasta sekitar 192 Madrasah Aliyah Swasta di NTB. Adapun jumlah Pondok Pesantren NW mencapai 66 buah atau sekitar 27,8 persen dari jumlah Pondok Pesantren di NTB sebanyak 237 buah.

Secara keseluruhan jumlah pesantren/madrasah NW di NTB mencapai sekitar 676 buah atau sekitar 39,3 % dari 1718 madrasah. Jumlah tersebut tergolong cukup besar, lebih-lebih basis dukungan organisasi NW di Nusa Tenggara Barat khususnya di Pulau Lombok sangat luas dan merata di setiap wilayah.

Kebijakan Umum Pengurus Wilayah
  1. Membangun organisasi yang solid, kompak dan bersatu. yang akan diwujudkan melalui pelaksanaan konsolidasi organisasi, konsolidasi wawasan dan konsolidasi personil
  2. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, sosial dan dakwah Nahdlatul Wathan.
  3. Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Ekonomi Nahdlatul Wathan.
  4. Membangun jaringan kerjasama (network) untuk kemajuan organisasi Nahdlatul Wathan serta menggalang dana perjuangan organisasi untuk menjamin pelaksanaan program secara berkelanjutan.

    Meningkatkan kesadaran hukum , posisi tawar (bargaining position), partisipasi    dan kontribusi warga Nahdlatul Wathan dalam Pembangunan Nasional dan Daerah.
Read More..

Senin, 28 Oktober 2013

Download Lagu Perjuangan NW Versi Asli

Read More..

Lagu-Lagu Perjuangan Karya TGKH M. Zainuddin Abdul Majid

MARS NAHDLATUL WATHAN

Kami benihan Nahdlatul Wathan yang setia
Mengorbankan jiwa membela Nusa dan Bangsa
Agar umat seluruh bersatu raga
Marilah kita hindarkan pengaruhnya setan durhaka
Teguhkan hati janganlah mundur
Walau setapak kaki....

Reff :
      Serta tulus ikhlas kepada Tuhan
      Jangan tingggi karena puji
      Mari kita lenyapkan
      Agar Nahdlatul Wathan yang perwira
      Hidup makmur serta jaya
      Dalam aman sentosa 2X


TA’SIS NAHDLATUL WATHAN

Antiya pancor biladi
Antu’unwanul kamali
Kullumayya’tiki yauma
Zairon yalkon nawali

Yabani wathani yajiddu
Wasyharu tulallayali
Wathani ruhi fida’u
Lakimingkulli dholali

Ayyuhal Islamu syukro
Innakum ahlul ma’ali
Jarridul ‘izza li idro
Kilkamali wal ‘amali

Hadzihi madrosatul ‘iz
Ziwaun wanul kamali
Kullumallabbamu nadi
Hafala yahsyal wabali


NAHDLATAIN

Nahdlatul Wathan setia
Nahdlatul Banat sedia
Ngurasang batur si’ pidem
Nde’ ne ngese leat kelem 2x

Bangsaku pacu beguru
Kaumku sasak bejulu
Bangsaku nde’ ne bemudi
Pete sangu jelo mudi 2x

Ilmu agama berguna
Doe bande nde’ ne gune
Nde’ ne perlu bangsa-bangsa
Mun agama nde’ te raksa 2x

Mesti te syukur beribu
Ribu ribu ribu ribu
Kemamang po ne ara’
Tao’te nuntut agamante 2x

Dese pancor nde’ kulupa’
Budi bermi ngeno jue’
Tao’ku ngaji belajar
Bilang jelo ateng ku sabar2x

Madrasahku-madrasahku
Jari inangku amangku
Madrasahku mudahan de
Selamet belo umurde 2x

NAHDLATUL WATHAN

Syukur Alhmamdulillah Nahdlatul Wathan
Mempunyai banyak keistimewaan
Nahdlatul Wathan dari zaman ke zaman
Penuh rahasia serat kelebihan

Nahdlatul Wathan bergerak dibidang
Sosial dakwah serta pendidikan
Nahdltul Wathan tak mengutamakan
Pangkat dan kursi serta kedudukan

Nahdlatul Wathan aktif menjalankan
Amar ma’ruf serta nahi mungkar
Nahdltul Wathan dimana dan kapan
Sesuai dengan perkembangan zaman

Nahdlatul Wathan pemberantas kemiskinan
Kemunduran dan keterbelakangan
Nahdlatul Wathan tak mau ketinggalan
Disemua bidang dalam kebaikan

Nahdlatul Wathan aktif mendo’akan
Pemuka agama bangsa negara
Mendo’akan negara Indonesia
Subur aman adil makmur merata

BAPAK MAULANA

Siapa yang cinta bapak Maulana
Ikhlaskan hati hidup mati bersama
Apapun coba tegakkan jiwa
Tetap bersama demi iman dan taqwa 2X

Jangalah karena senyum manisnya dunia
Sehingga lupa guru ibu bapaknya
Jangan na”da terpaksa memilih dunia
Jangan sampai ayahda di buat boneka 2X

Oh karena dunia membuang guru ibu bapak
Oh karena dunia orang melelang iman taqwanya
Hati-hatilah tipuan dunia
Ingatlah dunia bangkai semata-mata 2X


MARS HAMZANWADI


Bapak kiyai HAMZANWADI tercinta
Al-Ulama’ paling banyak berjasa
Pada Agama Serta Nusa Bangsa
Siang dan malam mempertahankan agama

Serta membina, iman dan taqwa
Jiwa besar, lapang dada
Tekun sabar, ikhlas hati
Wajahnya tenang dan beseri
Dalam menghadapi cobaan rintangan Caci dan cerca 2X

Berhati baja pantang mundur ke belakang
Maju ke depan pantang menyerah………
Tak goyah karena gelombang
Tak rebah karena angin topan

Nahkoda kapal tetap tenang
Berlayar ke pulau seberang
Hidup HAMZANWADI tersayang
Putra rinjani selaparang 2X

SURAT WAQI’AH

Baca olehmu surat waqi’ah
Tilawahnya jangan kau ubah
Rauhun raihanun jangan dipisah
Seperti ayat dalam waqi’ah

Ikutilah fatwanya ulama’
Yang selalu berdasarkan syara’
Jangan ikut omongan juhala’
Cerita mimpi hayalnya banyak

Sekarang banyak dongeng ajaib
Diceritakan oleh si kadzib
Sehingga orang banyak ta’ajjub
Padahal itu omongan kidzib

Mata gunakan untuk melihat
Telinga mendengarkan nasihat
Cernakkan dengan otak yang sehat
Bibir janganlah untuk mengumpat

Pancor bermi lahir HAMZANWADI
NWDI serta NBDI
Ini bukan hayal bukan mimpi
Jangan tinggalkan barokah suci

Tuan guru bajang pewaris nyata
Ilmu serat barokah datuknya
Coba saksikan kalau berfatwa
Sopan santun berbudi bahasa

Mengadu domba membuat fitnah
Ulah iblis alaih laknatulloh
Jangan ikuti lantaran upah
Kursi dan harta melimpah ruah

SAKIT JAHIL

Sakit jahil nde’ narak oatne
Selainan si’ te beguru nagji
Semeton jari si’ masih sakit
Te pade beroat le’ Nahdlatul Wathan

Agen teselamet era’ le’ akhirat
Te pade beroat le’ nahdlatul banat
Agen teselamet era’ le’ akhirat
Pade nagaji le’ nahdlatul wathan

Pade nagaji le’ nahdlatul banat
Bilang jelo nde’ te mele telat 2x
Rumu diri’te sampung masih sehat 2x
Tebeguru ngaji le’ nahdlatul wathan

Agen nde’ te nyesel era’ le’ akhirat
Tebeguru ngaji le’ nahdlatul banat
Agen nde’ te nyesel era’ le’ akhirat



Selengkapnya lagu Karya TGKH M. Zainuddin Abdul Majid  bisa di download di sini

1. Format mp3
 

2. Atau Format Rar

Read More..

Pengembaraan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dalam menuntut Ilmu

A.    PENDIDIKAN FORMAL DI LOMBOK DAN BERGURU PADA KYAI LOKAL
Pengembaraan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menuntut ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan di dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji [membaca Al Qur’an] dan berbagai ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh Ayahnya, Tuan Guru Haji Abdul Madjid. Pendidikan yang didapatkan dari Ayahnya ini, dimulai sejak berusia 5 tahun. Baru setelah berusia 9 tahun ia memasuki pendidikan formal pada sebuah sekolah umum yang disebut Sekolah Rakyat Negara [Sekolah Gubernemen] di Selong Lombok Timur.
Setelah menamatkan pendidikan formalnya pada Sekolah Rakyat Negara pada tahun 1919 M, ia kemudian diserahkan oleh ayahnya untuk belajar ilmu pengetahuan agama yang lebih luas lagi pada beberapa kiyai lokal saat itu, antara lain Tuan Guru Haji Syarafuddin dan Tuan Guru Haji Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari Kelayu Lombok Timur. Dari beberapa kyai lokal ini, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin selain mempelajari ilmu-ilmu agama dengan menggunakan kitab-kitab Arab Melayu, juga secara khusus mempelajani ilmu-ilmu gramatika bahasa Arab, seperti ilmu Nahwu dan Sharf.
Menjelang musim haji tahun 1341 [1923 M], Muhammad Saggaf yang saat itu telah mencapai usia 15 tahun, berangkat ke Tanah Suci Makkah dengan diantar langsung oleh ayah dan ibunya bersama tiga orang adiknya, yaitu: H. Muhammad Faishal, H. Ahmad Rifa’i dan seorang kemenakannya. Bahkan ikut serta dalam rombongan ini, salah seorang gurunya, yaitu Tuan Guru Haji Syarafuddin dan beberapa anggota keluarga dekat lainnya.
 
B.     BELAJAR DI TANAH SUCI MAKKAH
 Ketika sampai di Makkah Zainuddin Muda belajar pertama kali pada  Syeikh Marzuki, Syeikh Marzuki adalah seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. Ia sudah lama tinggal di Makkah dan mengajar mengaji di Masjidil Haram.
Beliau mempelajani ilmu sastra dengan spesifikasi syair-syair Arab kepada ahli syair terkenal di Makkah, yakni Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi. Pada saat itulah ia berkenalan dengan Sayyid Muhsin al-Palembani, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. Ternyata ia kemudian menjadi gurunya di Madrasah al-Shaulatiyah. Sayyid Muhsin juga pendiri Madrasah Darul Ulum yang saat itu amat terkenal di Makkah dan sebagian besar muridnya berasal dari Indonesia.
Dua tahun setelah terjadinya huru hara di Tanah Suci Makkah, stabilitas keamanan relatif terkendali. Pada saat itu Muhammad Zainuddin berkenalan dengan seseorang yang bernama Haji Mawardi dari Jakarta. Dari perkenalan itu, Zainuddin diajak untuk masuk belajar di sebuah madrasah legendaris di Tanah Suci, yakni Madrasah al-Shaulatiyah. Madrasah ini didirikan pada tahun 1219 H, oleh seorang ulama besar imigran India, yaitu Syaikh Rahmatullah Ibnu Khalil al-Hindi al-Dahlawi. Madrasah ini adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam dunia pendidikan di Saudi Arabia. Gaungnya telah menggema ke seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama-ulama besar dunia.
Muhammad Zainuddin masuk di madrasah ini, pada tahun 1345 H [1927 M], Madrasah al-Shaulatiyah di bawah pimpinan cucu dari pendirinya, yaitu Syaikh Salim Rahtnatullah. Petama kali masuk, ia diantar oleh Haji Mawardi dan langsung menghadap kepada Syaikh Salim Rahmatullah selaku pimpinan [Mudir/ Direktur]. Pada hari pertama masuknya, ia bertemu dengan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath yang nantinya akan menjadi gurunya yang hubungannya paling dekat. Di sana juga ia bentemu Syeikh Sayyid Muhsin al-Musawa, diantara temannya sewaktu belajan syair pada Syeikh Sayyid Amin al-Kutbi, yang ternyata juga sebagai salah seorang guru di madrasah ini.
Setiap thullab baru yang masuk, harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang tepat dan cocok bagi thullab baru tersebut. Demikian juga dengan Muhammad Zainuddin, ia diuji juga terlebih dahulu. Dan secara kebetulan ia langsung diuji oleh Mudir al-Shaulatiyah sendiri, yaitu Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath.
Akhirnya, Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath menentukannya masuk di kelas III. Padahal ilmu Nahwu-Sharaf yang belum dikuasai diajarkan di kelas II. Mendengar keputusan tersebut, ia meminta agar diperkenankan masuk kelas II, dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran Nahwu-Sharaf. Walau pada awalnya Syeikh Hasan bersikeras dengan keputusannya, namun argumentasi Muhammad Zainuddin membuatnya berfikir kembali. Kemudian ia mengabulkan permohonan sang murid. Maka resmilah ia diterima di kelas II.
Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil. Beberapa orang gurunya mengakui ia tergolong murid yang cerdas. Syaikh Salim Rahmatullah selalu mempercayakan kepadanya untuk menghadapi Penilik Madrasah pemerintah Saudi yang seringkali datang ke madrasah itu, Penilik madrasah itu menganut faham Wahabi. Dan ia satu-satunya murid Madrasah al-Shaulatiyah yang dianggap menguasai faham Wahabi. Pentanyaan Penilik itu biasanya menyangkut soal-soal hukum ziarah kubur, tawassul kepada Anbiya’ dan Auliya’, bernazar menyembelih kambing berbulu hitam atau putih dan sebagainya. Dan ia selalu berhasil menjawab pertanyaan Penilik itu dengan memuaskan.
Ketekunannya dalam belajar dan bendiskusi juga diakui oleh salah seorang teman sekelasnya di Madrasah al-Shaulatiyah tersebut, yaitu Syaikh Zakaria Abdullah Bila, seorang ulama besar di Tanah Suci Makkah. Ia mengatakan: “saya teman seangkatan Syaikh Zainuddin, saya telah bengaul dekat dengannya beberapa tahun. Saya sangat kagum padanya. Dia sangat cerdas, akhlaknya mulia. Dia sangat tekun belajar, sampai-sampai jam keluar mainpun diisinya menekuni kitab pelajaran dan berdiskusi dengan kawan-kawannya.”
Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Ia berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Di samping itu, dengan kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 6 tahun. Padahal lama belajar normal adalah selama 9 tahun, yaitu mulai dari kelas I sampai dengan kelas IX. Dari kelas II, ia langsung ke kelas IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik ke kelas VII, VIII dan IX.
Dengan tingkat kecerdasan [IQ] yang sangat tinggi ini, Syaikh Zakaria Abdullah Bila mengatakan, “Syeikh Zainuddin itu adalah manusia ajaib di kelasku, karena kegeniusannya yang sangat tinggi dan luar biasa, saya sungguh menyadari hal ini. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, karibku, dan kawan sekelasku. Saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi dikala saya dan dia bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah As-Saulatiyah Makkah.”
Lebih jauh Syaikh Zakaria menceritakan: “Pernah sehari sebelum ujian, saya mengambil sebuah kitab di perpustakaan secara diam-diam dan membawanya pulang Kitab itu hanya satu di perpustakaan, yang berisi mata pelajaran yang akan diujikan esok harinya. Hal ini saya lakukan dengan sengaja agar Syaikh Zainuddin tidak bisa menelaahnya, sehingga dalam ujian nanti dapat mengalahkannya. Ternyata keesokan harinya dalam ujian, dia benhasil menjawab semua, pertanyaan dengan sangat baik dalam bentuk syair [puisi] dalam bahasa Arab.”
Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berhasil menyelesaikan studinya di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah pada tahun 1351 H. [1933 M] dengan predikat istimewa [Mumtaz]. Predikat istimewa tersebut disertai pula dengan perlakuan yang istimewa dari Madrasah al-Shaulatiyah.
Ijazahnya ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khat terkenal di Makkah saat itu, yaitu al-Khathath al-Syaikh Dawud al-Rumani atas usul dari Direktur Madrasah al-Shaulatiyah. Kemudian ijazah tersebut ditanda tangani oleh beberapa orang gurunya. Ijazah tersebut diserah terimakan kepadanya pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H.
Setelah tamat di Madrasah al-Shauladyah, ia tidak langsung pulang ke Indonesia. Tetapi bermukim lagi di Makkah selama 2 tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar yaitu Haji Muhammad Faishal. Dua tahun ini dimanfaatkannya untuk belajar, antara lain belajar ilmu Fiqh kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani.
Dengan demikian, waktu belajar yang ditempuh di Tanah Suci Makkah adalah selama 13 kali musim haji atau kurang lebih 12 tahun. Berarti sampai pulang ke kampung halamannya, ia sempat mengerjakan ibadah haji sebanyak 13 kali.
Read More..

Pernikahan dan Keluarga Besar TGKH Abdul Madjid

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama hayatnya telah menikah sebanyak tujuh kali. Dari ketujuh perempuan yang pernah dinikahinya itu, ada yang mendampinginya sampai wafat, ada yang wafat terlebih dahulu semasih ia hidup dan ada juga yang diceraikannya setelah beberapa bulan menikah. Di samping itu, ketujuh perempuan yang telah dinikahinya itu, berasal dari berbagai pelosok daerah di Lombok, dan dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari keluarga biasa dan ada pula yang berlatar belakang bangsawan, seperti istrinya yang bernama Hajah Baiq Siti Zuhriyah Mukhtar, berasal dari Desa Tanjung, Kecamatan Selong.
Adapun nama-nama perempuan yang pernah dinikahi oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, adalah: 1] Chasanah; 2] Hajah Siti Fatmah; 3] Hajah Raihan; 4] Hajah Siti Jauhariyah; 5] Hajah Siti Rahmatullah; 6] Hajah Baiq Siti Zuhriyah Mukhtar; dan, 7] Hajah Adniyah.
Selanjutnya dari ketujuh orang perempuan yang dinikahinya, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, hanya mendapatkan dua orang puteri, yakni Siti Rauhun dari perkawinannya dengan Hajah Siti Jauhariyah dan Siti Raihanun dari perkawinannya dengan Hajah Siti Rahmatullah.
Hajah Siti Jauhariyah adalah seorang perempuan yang tenkenal cantik, hingga pada masa gadisnya, onang sering menyebutnya sebagai “Kembang dari Kampung Jawa”. Disebut demikian karena ia adalah puteri dari perkawinan antara seorang wanita Selong yang bernama Masnah dan pria berasal dan Jawa yang bernama Abdurrahim. Abdurrahim adalah seorang muballigh yang mengembangkan ajaran Islam di Kampung Jawa. Tugas sehari-harinya adalah sebagai seorang pejabat pemerintah pada waktu itu.
Hajah Siti Jauhariyah dipersunting oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada usia yang sangat muda, yaitu ketika berusia 12 tahun. Setelah menikah pasangan ini tidak langsung tinggal serumah. Mereka baru tinggal serumah setelah Hajah Siti Jauhariyah berusia 19 tahun.
Pada tahun 1947, ketika Siti Jauhariyah telah berusia sekitar 20 tahun, ia dinyatakan positif hamil. Kehamilan ini disambut dengan senang dan gembira, karena setelah lama menikah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaiuddin belum juga diberikan keturunan oleh Allah SWT. Ia bahkan pernah dikatakan mandul dan tidak akan mendapatkan keturunan.
Mendengar informasi kehamilan Siti Jauhariyah, Tuan Guru Kyai Muhammad Zainuddin segera datang ke rumahnya untuk menantikan saat-saat kelahiran anak pertamanya. Pucuk dicinta ulam tiba. Jabang bayi yang ditunggu-tunggu lahir dengan selamat dan berjenis kelamin perempuan. Ia kemudian diberi nama Siti Rauhun. Nama tersebut diambil dari bahasa Arab yang artinya “kegembiraan/ kenikmatan”.
Sedangkan puteri keduanya diberi nama Siti Raihanun, yang akrab dipanggil Ummi Raihanun. Sebagaimana disebutkan di atas, puteri kedua adalah buah dari perkawinannya dengan Hajah Siti Rahmatullah.
Siti Rahmatullah adalah puteri dan Guru Hasan, seorang imam khatib di Masjid distrik Rarang. Perkenalan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin dengan Siti Rahmatullah tenjadi ketika pada suatu hari ayahnya datang bersilaturrahmi ke rumah Guru Hasan di Rarang. Saat itulah ia mengutarakan keinginannya untuk menikahkan puteranya dengan puteri Guru Hasan.
Karena waktu itu Siti Rahmatullah masih sangat kecil dan belum mempunyai keinginan sama sekali untuk menikah, Tuan Guru Haji Abdul Madjid hanya berjanji akan menikahkan puteranya dengan Siti Rahmatullah. Semenjak itu hubungan di antara kedua keluarga ini terbangun dengan sangat erat. Setiap tahun Tuan Guru Haji Abdul Madjid bersilaturrahmi ke Rarang, demikian pula sebaliknya. Setelah mencapai usia yang cukup, barulah keduanya dinikahkan. Dan dari pernikahan ini kemudian lahir seorang puteri yang diberi nama Siti Raihanun.
Adapun dari istrinya yang lain, ia tidak mendapatkan keturunan, baik putra ataupun putri. Dan karena hanya mempunyai dua orang puteri yang bernama Siti Rauhun dan Raihanun, ia juga populer dengan sebutan “Abu Rauhun wa Raihanun”.
Beliau mengakui bahwa nama kedua puterinya diambil dari Al-Qur’an Surat Al-Waqi’ah ayat 89 yang berbuyi “Fa rauhun wa raiharnen wajannatu na’im”, [maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta sorga kenikmatan].
Dari kedua orang putrinya, ia mendapatkan banyak cucu dan keturunan. Dari Siti Rahun ia memperoleh enam orang cucu, yaitu: 1] Siti Rahmi Jalilah; 2] Syamsul Lutfi; 3] M. Zainul Majdi; 4] M. Jamaluddin; 5] Siti Suraya; dan, 6] Siti Hidayati.
Sedangkan cucunya yang lalir dari Siti Raihanun, sebanyak tujuh orang putra dan putri, yaitu: 1] Lalu Gede Wiresakti Amir Murni; 2] Lale Laksemining Puji Jagat; 3] Lalu Gede Syamsul Mujahidin; 4] Lale al Yaqutunnafis; 5] Lale Syifa’un Nufus; 6] Lalu Gede Zainuddin al-Tsani; dan, 7] Lalu Gede Muhammad Fatihin.

Keluarga Besar Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid



Read More..

KELAHIRAN TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang nama kecilnya Muhammad Saggaf dilahirkan pada hari Rabu, 17  Rabi’ul Awal 1326 [1904 M] di Kampung Berini, Desa Pancor, Kecamatan Rarang Timur [Sekarang Kecamatan Selong] Lombok Timur Nusa Tenggara Barat.
Adalah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid, yang namanya disingkat HAMZANWADI [Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah], yang akrab dipanggil Maulana Syaikh atau juga akrab dengan panggilan “Tuan Guru Pancor”, oleh para murid dan jamaahnya secara umum, semasa kecilnya diberi nama Muhammad Saggaf oleh ayahnya sendiri, yaitu Tuan Guru Haji Abdul Madjid.
Terdapat keunikan lain seputar kelahirannya, yaitu adanya cerita gembira yang di bawa oleh seorang wali, bernama Syaikh Ahmad Rifa’i yang juga berasal dari Maghrabi. Ia menemui Tuan Guru Haji Abdul Madjid menjelang kelahiran putranya. Syaikh Ahmad Rifa’i berkata kepada Tuan Guru Haji Abdul Madjid “Akan segera lahir dari istrimu seorang anak laki-laki yang akan menjadi ulama besar”.
Muhammad Saggaf adalah anak bungsu dari enam bersaudara, yaitu; Siti Sarbini, Siti Cilah, Hajah Saudah, Haji Muhammad Shabur dan Hajah Masyithah. Keenam putera-puterinya ini merupakan hasil perkawinan Tuan Guru Haji Abdul Madjid dengan seorang perempuan yang shalihah, berasal dari desa Kelayu Lombok Timur, bernama Inaq Syarn dan lebih dikenal dengan Hajah Halimatussa’diyah.
Nama Muhammad Saggaf masih disandangnya sampai ia berangkat ke Tanah Suci Makkah untuk melaksanakan ibadah haji bersama ayahnya. Setelah menunaikan ibadah haji, nama Muhammad Saggaf diganti menjadi Haji Muhammad Zainuddin oleh ayahnya sendiri.
Ikhwal penggantian nama ini, dilatar belakangi oleh ketertarikan ayahnya kepada nama seorang ulama yang memiliki kepribadian dan akhlak mulia, yaitu Syaikh Muhammad Zainuddin Senawak, seorang ulama di Masjid al-Haram. Sejak saat itu namanya kemudian berubah menjadi Haji Muhammad Zainuddin.
Read More..

Kepulangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dari Tanah Air

Setelah selesai menuntut ilmu di Makkah dan kembali ke tanah air, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid langsung melakukan safari dakwah ke berbagai lokasi di pulau Lombok, sehingga dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Tuan Guru Bajang”.

Semula, pada tahun 1934 mendirikan pesantren al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama dan selanjutnya pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan menamatkan santri (murid) pertama kali pada tahun ajaran 1940/1941.
Read More..

Kepemimpinan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

 Kesuksesan perjuangan seseorang tokoh atau pemimpin banyak ditentukan oleh pola kepemimpinannya. Kearifan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya akan menentukan keberhasilan perjuangannya. Perjuangan dan kepemimpinan merupakan dua hal yang saling mengkait, karena perjuangan itu akan berhasil baik, apabila pola pendekatan yang dipergunakan dalam kepemimpinan itu baik. Disamping itu, kepemimpinan yang arif dan bijaksana akan menghasilkan keberhasilan perjuangan.

Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dikenal sebagai ulama besar di Indonesia karena ilmu yang dimiliki sangat luas dan mendalam. Demikian juga kharisma beliau sebagai sosok figur ulama demikian besar. Beliau adalah tokoh panutan yang sangat berpengaruh karena kearifan dan kebijaksanaannya.

Perjuangan dan kepemimpinan beliau senantiasa diarahkan untuk kepentingan umat. Penghargaan dan penghormatan yang diberikan kepada seseorang yang telah berjasa kepadanya terutama kepada guru-guru beliau diwujudkan dalam bentuk yang dapat memberikan manfaat kepada umat.

Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa penghargaaan beliau kepada mahaguru yang paling dicintai dan disayangi, asy-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath diwujudkan dalam bentuk Pondok Pesantren Hasaniyah NW di Jenggik, Lombok Timur. Penghargaan kepada mahagurunya asy-Syaikh as-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi diwujudkan dalam bentuk Pondok Pesantren Aminiyah NW di Bonjeruk Lombok Tengah, dan penghargaan kepada mahagurunya asy-Syaikh Salim Rahmatullah beliau sudah merencanakan untuk mendirikan sebuah Pondok Pesantren di Lombok Timur.

Pola kepemimpinan yang beliau contohkan di atas hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki wawasan ilmu yang dalam serta pemimpin yang memiliki kearifan dan kebijaksanaan. Demikian pula tentang pendekatan yang beliau lakukan selalu bernilai paedagogik dalam arti mengandung nilai-nilai pendidikan. Beliau tidak mau bahkan tidak pernah bersikap sebagai pembesar yang disegani. Beliau selalu bertindak sebagai pengayom yang berada di tengah-tengah jamaah dan senantiasa menempatkan diri sesuai dengan keberadaan dan kemampuan mereka. Demikian juga halnya di kala beliau memberikan fatwanya selalu disesuaikan dengan kondisi dan jangkauan alam pikiran murid dan santrinya.

Pembawaan dan sikap hidup beliau selalu menunjukkan kesederhanaan. Inilah yang membuat beliau selalu dekat dengan para warganya dan murid-muridnya dengan tidak mengurangi kewibawaan dan kharisma yang beliau miliki. Keluhan yang disampaikan para warga dan muridnya ditampung, didengar, dan dicarikan jalan penyelesaiannya dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan dengan tidak merugikan salah satu pihak.

Untuk melanjutkan dan mengembangkan perjuangan Nahdlatul Wathan di masa datang, beliau sangat mendambakan munculnya kader-kader yang memiliki potensi dan militansi, serta loyalitas yang tinggi, baik dari segi semangat, wawasan, maupun bobot keilmuan.

Dalam banyak kesempatan beliau sering menyampaikan keinginannya agar murid dan santri beliau memiliki ilmu pengetahuan sepuluh bahkan seratus kali lipat lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Demikian motovasi yang selalu beliau kumandangkan supaya murid dan santri beliau lebih tekun dan berpacu dalam menuntut ilmu pengetahuan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Dalam menerima dan menghadapi para murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan, beliau tidak pernah membedakan antara yang satu dengan yang lain. Semua murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan diberikan perhatian dan kasih sayang yang sama besarnya, bagaikan cinta dan kasih sayang seorang bapak kepada anak-anaknya.

Yang membedakan murid dan santri di hadapan beliau adalah kadar keikhlasan dan sumbangsihnya kepada Nahdlatul Wathan. Dan, untuk membina dan memonitor kualitas kader Nahdlatul Wathan, beliau mengeluarakan wasiat dalam bahasa Arab, yang artinya:

“Dengan menyebut nama Allah dan dengan memujiNya semoga keselamatn tetap tercurah padamu, demikian pula rahmat Allah, keberkatan, ampunan dan ridhaNya.

Anak-anak yang setia dan murid-muridku yang berakal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisiku ialah yang paling banyak bermanfaat untuk perjuangan Nahdlatul Wathan. Dan sejahat-jahat kamu di sisiku ialah yang paling banyak merugikan perjuanganNahdlatul Wathan.

Karena itu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, berjuanglah kemudian berjuanglah di jalan Nahdlatul Wathan untuk mempertinggi citra agama dan negara. Niscaya kamu dengan kekuasaan Allah Swt. Tergolong pejuang agama, orang shaleh dan mukhlish baik pada waktu sendirian maupun pada waktu bersama orang lain.

Semoga Allah membukakan pintu rahmat untuk kami dan kamu dan semoga ia menganugerahi kami dan kamu serta para simpatisan Nahdlatul Wathan masuk surga dan nikmat tambahan yang tiada taranya, yaitu melihat DzatNya dari dalam surga.”

Demikianlah, wasiat ini dikeluarkan setelah terlihat beberapa kader dari kalangan alumni Madrasah NWDI, dan mereka yang sudah dibiayai beliau untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi keluar dari garis perjuangan oraganisasi. Tidak taat pada kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh beliau.

Memang dalam rangka kaderisasi beliau banyak memberikan bantuan kepada alumni NWDI dan orang-orang lain untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi dengan nawaitu khusus dan perjanjian khusus pula, yaitu untuk setia membela dan memperjuangkan cita-cita NWDI, NBDI dan NW.

Alhamdulillah tidak sedikit diantara mereka yang benar-benar menepati janjinya dengan tulus. Sebaliknya ada juga yang khianat pada janjinya, tidak malu merobek-robek nawaitu pengirimannya. Eksistensi dan aplikasi dari wasiat ini menjadi tolok ukur kualitas dan kader ketaatan serta keihklasan kader-kader Nahdlatul Wathan.

Disamping itu, untuk mempertegas Wasiat Renungan Masa I dan II berbahasa Indonesia dalam bentuk puisi. Wasiat Renungan Masa ini berisikan nasihat, fatwa dan pedoman bagi warga Nahdlatul Wathan dalam berjuang.

Lahirnya wasitat-wasiat tersebut merupakan konsekuensi logis dari pola kepemimpinan beliau yang selalu menekankan hubungan guru dan murid. Beliau adalah figur pemimpin yang selalu menekankan agar tetap terjalin dan terpelihara hubungan antara guru dan murid. Menurut prinsip beliau bahwa tidak ada guru yang membuang murid akan tetapi kebanyakan murid yang membuang guru.
Read More..

Guru-guru Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Para guru yang mengajarkan al-Quran dan kitab Melayu di Lombok diantaranya adalah:

1.Tuan Guru KH. Abdul Majid
2.Tuan Guru KH. Syarafuddin Pancor Lombok Timur
3.Tuan Guru KH. Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur.


Adapun para guru beliau di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah adalah:

1.Asy-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath
2.Asy-Syaikh Umar Bajunaid asy-Syafi’i
3.Asy-Syaikh Muhammad Said al-Yamani asy-Syafi’i
4.Asy-Syaikh Ali al-Maliki
5.Asy-Syaikh Marzuqi al-Palimbani
6.Asy-Syaikh Abubakar al-Palimbani
7.Asy-Syaikh Hasan Jambi asy-Syafi’i
8.Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Mandili asy-Syafi’i
9.Asy-Syaikh Mukhtar Betawi asy-Syafi’i
10.Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari asy-Syafi’i
11.Asy-Syaikh Umar Hamdan al-Mihrasi al-Maliki
12.Asy-Syaikh Abdussattar ash-Shiddiqi Abdul Wahab al-Kutbi al-Maliki;
13.Al-‘Allamah al-Kabir al-Syeikh
14.Asy-Syaikh Abdul Qadir asy-Syibli al-Hanafi
15.Asy-Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafi
16.As-Sayyid al-Habib Muhsin al-Musawa asy-Syafi’i
17.Asy-Syaikh Khalifah al-Maliki
18.Asy-Syaikh Jamal al-Maliki
19.Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Kalantani asy-Syafi’i
20.Asy-Syaikh Mukhtar al-Makhdumi al-Hanafi
21.Asy-Syaikh Salim Cianjur asy-Syafi’i
22.As-Syayid Ahmad Dahlan Shadaqi asy-Syafi’i
23.Asy-Syaikh Salim Rahmatullah al-Maliki
24.Asy-Syaikh Abdul Gani al-Maliki
25.As-Syayid Muhammad Arabi at-Tubani al-Jazairi al-Maliki
26.Asy-Syaikh Umar al-Faruqi al-Maliki
27.Asy-Syaikh Abdullah al-Farisi
28.Asy-Syaikh Malla Musa.

Jika diklasifikasikan guru-gurunya berdasarkan latar belakang madzhab yang berbeda, maka akan terlihat kategorisasi madzhab sebagai berikut: 11 orang bermadzhab Syafi’i, 6 orang bermadzhab Hanafi dan 11 orang bermadzhab Maliki.

Berdasarkan kategorisasi madzhab di atas terlihat jelas bahwa semua guru-guru beliau masih berada dalam satu landasan teologi yang sama, yakni faham Ahlussunnah wal Jama’ah. Dengan kata lain, bahwa tidak ada seorang pun gurunya yang menganut faham teologi yang berbeda, seperti Mu’tazilah, Syi’ah ataupun Wahabi.
Read More..

Minggu, 06 Oktober 2013

KARYA TULIS TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid

Disela-sela kesibukan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam melakukan aktivitas di bidang pendidikan, sosial, dan dakwah, ia juga tidak lupa menulis beberapa kitab sebagai rujukan bagi para santri dan madrasah NWDI dan NBDI. Karya-karyanya memang tidak berbentuk kitab-kitab yang besar, yang berisi kajian-kajian yang panjang lebar pembahasannya (muthawwalat), tetapi karyanya lebih merupakan kajian-kajian dasar dan biasanya dalam bentuk syair dan nadzham-nadzham berbahasa Arab. Di samping itu juga, terdapat kitab yang berisi nadzham dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Arab dan Melayu. Karyanya juga dalam bentuk syarah atau penjelasan lebih lanjut terhadap suatu kitab dan dalam bentuk saduran dan kitab-kitab lain. Di antara judul-judul karya tulis yang telah dihasilkannya adalah sebagai berikut: Dalam Bahasa Arab 1.Risalah al-Tauhid dalam bentuk soal jawab [Ilmu Tauhid] 2.Sullam al-Hija Syarh Safinah al-Naja [Ilmu Fiqih] 3.Nahdlah al-Zainiyah dalam bentuk nadzham (Ilmu Faraidh] 4.AI-Tuhfahl al-Anfananiyah Syarh Nabdlah al-Zainiyah [Ilmu Faraidh] 5.Al-Fawakih al-Nahdliyah dalam bentuk soal jawab [Ilmu Faraidh] 6.Mi’raj al-Shibyan ila sama’i Ilm al-Bayan [Ilmu Balaghah) 7.Al-Nafahat ‘ala al-Taqrirah al-Saniyah [Ilmu Mushthalah al-Hadist] 8.Nail al-Anfal (Ilmu Tajwid) 9.Hizb Nahdlah al-Wathan [Do’a dan Wirid] 10.Hizib Nahdlah al-Banat [Do’a dan Wirid kaum wanita] 11.Shalat al-Nahdlatain 12.Thariqah Hizib Nahdlah al-Wathan 13.Ikhtisar Hizib Nahdlah al-Wathan [ Wirid Harian] 14.Shalat Nahdlah al-Wathan 15.Shalat Miftah Bab Rahmah Allah [ Wirid dan Do’a ] 16.Shalah al-Mab’uts Rahmah li al-Alamin [ Wirid dan Do’a ] 17.dan lain-lainnya. Dalam Bahasa Indonesia dan Sasak 1.Batu Ngompal [Ilmu Tajwid] 2.Anak Nunggal Taqrirat Batu Ngompal [Ilmu Tajwid] 3.Wasiat Renungan Masa I dan II [Nasihat dan petunjuk perjuangan untuk warga Nahdlatul Wathan] Nasyid/ Lagu Perjuangan dan Dakwah dalam Bahasa Arab, Indonesia dan Sasak. 1.Ta’sis NWDI [Antiya Pancor Biladi] 2.Imamuna al-Syafi’i 3.Ya Pata Sasak 4.Ahlan bi wafd al-zairin 5.Tanawar 6.Mars Nahdlatul Wathan 7.Bersatulah haluan 8.Nahdlatain 9.Pacu Gama’ 10.dan lain-lainnya.
Read More..

Jumat, 04 Oktober 2013

Kehidupan Ekonomi Keluarga Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Tuan Guru Haji Abdul Madjid termasuk salah seorang yang kaya di desanya. Kondisi ini menyebabkan status sosial dan ekonomi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Setidaknya, ia mewarisi sebagian dari kekayaan yang ditinggalkan ayahnya.
Kondisi ekonomi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sejak awal menjadi rahasia umum, ia termasuk orang kaya di Pancor. Indikator kekayaannya dapat dilihat dari kepemilikan sawah ladang yang luas, kebun dan tanah pekarangan lainnya, serta sejumlah hewan ternak, disamping barang-barang perhiasan lainnya, seperti emas dan perak.
Walaupun ia termasuk golongan orang yang kaya, namun dalam kehidupan sehari-harinya bersama keluarga dijalani dengan pola kehidupan sederhana, tidak sombong, apalagi berpoya-poya, untuk tidak mengatakan memprihatinkan, terutama pada tahun-tahun yang sulit, yakni pada tahun 1940-an sampai dengan akhir tahun 1950-an.
Haji Husni Hamid, salah seorang anak angkatnya, menuturkan kondisi ini, ketika Hajah Fatmah [salah seotang istri Tuan guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid] yang biasa dipanggilnya mamik bini, sering menyuruhnya meminta uang kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang biasa dipanggilnya Mamiq laki, untuk keperluan sehari-hari, seperti membeli beras, lauk pauk, dan sebagainya. Namun demikian, seringkali permintaanya tidak terpenuhi, karena Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak mempunyai uang. Karena tidak memiliki uang, ia suruh kesawah untuk memetik sayur mayur.
Pola hidup sederhana yang dijalani oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bersama keluarganya ini disebabkan karena sebagian besar harta kekayaannya dialokasikan untuk kepentingan pembangunan gedung madrasah, pengadaan sarana danpra sarana madrasah, dan untuk pembiayaan operasional madrasah dalam bentuk syahriyyah [gaji] guru-guru setiap bulannya.
Singkatnya, sebagian besar kekayaan yang dimiliki sampai akhir hayatnya dialokasikan untuk pengembangan perjuangan Nadlatul Wathan, baik untuk pengembangan Sumber Daya Manusia [SDM], seperti pemberian beasiswa bagi kader-kader Nadlatul Wathan serta memberikan bantuan dan fasilitas untuk pembukaan cabang-cabang Nadhatul Wathan di berbagai daerah di Indonesia.
Read More..

Rabu, 02 Oktober 2013

Pola TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dalam mendidik Putrinya

Sebagai seorang ayah, Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin berusaha mendidik puteri-puteri dengan penuh kasih sayang dan perasaan lemah lembut. Pola ini agak berbeda Pola Mendidik Putrinya dengan pola yang diterapkan oleh Tuan Guru Haji Abdul Madjid kepadanya, yang cenderung keras dan tegas. Sekalipun puteri-puterinya dianggap melakukan kesalahan, ia berusaha untuk menegurnya juga dengan lemah lembut.

Sebagai ilustrasi, ketika Siti Rauhun sekolah di Muallimat Tsanawiyah Nahdlatul Banat, ia pernah pergi bersama teman-temannya ke Labuhan Haji Lombok Timur. Jarak antara Labuhan Haji dengan Selong sekitar 5-7 kilometer. Karena jaraknya yang cukup jauh, maka ia dan teman-temannya menggunakan dokar. Mereka pergi ke Labuhan Haji hanya untuk melihat pohon "Ndes". Buah ini jarang ditemui di Pancor, sehingga mereka pun ingin melihat buah ini di daerah Labuhan Haji.

Saat Siti Rauhun menaiki dokar bersama-sama teman-temannya menuju Labuan Haji, ditengah perjalanan ada orang yang mengenalinya. Kemudian orang itu melaporkan kejadian tersebut kepada ayahnya. Keesokan harinya ia dipanggil ayahnya dan disuruh menghadap ke Pancor. Mendapat pesan itu, ia tidak mempunyai firasat apa-apa. Apalagi dengan firasat akan dimarahi oleh ayahnya.

Selanjutnya ia segera memenuhi panggilan ayahnya, ia diterima oleh ayahnya dengan baik. Dan oleh ayahnya, ia langsung diminta untuk mengurut kaki ayahnya. Saat ia sedang mengurut kaki ayahnya, tiba-tiba ayahnya bertanya dengan nada menyindir; "Rauhun, enak naik dokar, ya?" Mendengar sindiran tersebut, telinga Siti Rauhun seperti terasa disambar petir. Karena ia merasa bahwa ayahnya mengetahui kepergiannya ke Labuhan Haji. Belum sempat ia menjawab sindiran tersebut, ayahnya langsung melanjutkan ucapannya, "Saya khawatir, kalau terjadi sesuatu pada diri kamu di tengah jalan. Kalau-kalau kamu diculik orang, atau terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan".

Seluruh ucapan ayahnya itu, tidak satupun yang dijawabnya. la hanya terdiam sambil menundukkan kepala. Baginya, sebagai seorang anak yang patuh dan pemalu, petistiwa itu sangat terkesan di dalam hidupnya. Sindiran ayahnya itu bagaikan sebuah kemarahan, yang tidak boleh terulang lagi dalam perjalanan hidupnya. Dan memang sekali itulah ia merasa dimajrahi oleh ayahnya, karena berbuat sesuatu yang tidak pantas menurut pandangan ayahnya.

Selain itu, untuk melatih kedua putrinya, menjadi seorang anak yang berjiwa pemberani dan percaya diri, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin sering menampilkan kedua putrinya dihadapan orang banyak untuk latihan berpidato. Keduanya disuruh berdiri di atas meja atau di atas tumpukan pasir. Kemudian disuruhnya berbicara di hadapn tukang dan para pekerja atau jamaah yang bergotong royong mengangkul batu atau pasir untuk pembangunan madrasah yang didirikannya.

Pola didikan seperti itu, sangat dirasakan nilai positifnya oleh kedua putrinya, hingga sejakkecil sudah terbiasa berhadapan dan berbicara di muka umum. Dan hingga saat ini kedua putrinya merupakan pelanjut setia estafet perjuangan dan da'wah ayahnya, melalui organisasi Nahdlatul Wathan [NW] yang didirikan pada tahun 1943. Keduanya memang telah diwasiatkan untuk selalu selangkah dan seayun dan bersatu padu dalam melanjutkan perjuangan Nahdlatul Wathan yang telah tersebar dari berbagai penjuru nusantara ini.

Gambaran tentang harapan Tuan Guru kepada puterinya ini, dilukiskan dalam bait-bait syair yang khusus ditujukan untuk keduanya sebagai berikut:

Wahai Anakku Rauhun Raihanun
Tetapkan dirimu selangkah seayun
Membela NW turun temurun 
"PERTANGGA NAIKBERJENJANG TURUN" 

Read More..

Keluarga Besar TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama hayatnya telah menikah sebanyak tujuh kali. Dari ketujuh perempuan yang pernah dinikahinya itu, ada yang mendampinginya sampai wafat, ada yang wafat terlebih dahulu semasih ia hidup dan ada juga yang diceraikannya setelah beberapa bulan menikah. Di samping itu, ketujuh perempuan yang telah dinikahinya itu, berasal dari berbagai pelosok daerah di Lombok, dan dari berbagai latar Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama hayatnya telah menikah sebanyak tujuh kali. Dari ketujuh perempuan yang pernah dinikahinya itu, ada yang mendampinginya sampai wafat, ada yang wafat terlebih dahulu semasih ia hidup dan ada juga yang diceraikannya setelah beberapa bulan menikah. Di samping itu, ketujuh perempuan yang telah dinikahinya itu, berasal dari berbagai pelosok daerah di Lombok, dan dari berbagai latar Hasan di Rarang. Saat itulah ia mengutarakan keinginannya untuk menikahkan puteranya dengan puteri Guru Hasan.

Karena waktu itu Siti Rahmatullah masih sangat kecil dan belum. mempunyai keinginan sama sekali untuk menikah, Tuan Guru Haji Abdul Madjid hanya berjanji akan menikahkan puteranya dengan Siti Rahmatullah. Semenjak itu hubungan di antara kedua keluarga ini terbangun dengan sangat erat. Setiap tahun Tuan Guru Haji Abdul Madjid bersilaturrahmi ke Rarang, demikian pula sebaliknya. Setelah mencapai usia yang cukup, barulah keduanya dinikahkan. Dan dari pernikahan ini kemudian lahir seorang puteri yang diberi nama Siti. Raihanun.

Adapun dari istrinya yang lain, ia tidak mendapatkan keturunan, baik putra ataupun putri. Dan karena hanya mempunyai dua orang puteri yang bernama Siti Rauhun dan Raihanun, ia juga populer dengan sebutan "Abu Rauhun wa Raihanun".

Belakangan, ia mengakui bahwa nama kedua puterinya diambil dari al-Qur'an Surat alWaqi'ah ayat 89 yang berbuyi il Fa rauhun wa raihanun wajannatu na'im", [maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta sorga kenikmatan].

Dari kedua orang putrinya, ia mendapatkan banyak cucu dan keturunan. 
Dari Siti Rahun ia memperoleh enam orang cucu, yaitu : 
1] Siti Rahmi Jalilah;
2] Syamsul Lufti; 
3] M. ZainulMajdi;
4] Jamaluddin; 
5| Siti Suraya; dan, 
6] Siti Hidayati.

Sedangkan cucunya yang lahir dari Siti Raihanun, sebanyak tujuh orang putra dan putri, yaitu : 
1] Lalu Gede Wiresakti Amir Marni; 
2] Lale Laksemining Puji Jagat 
3] Lalu Gede Syamsul Mujahidin; 
4] Lale al Yaqutunnafis 
5] Lale Syifa'un Nufus; 
6] Lalu Gede Zainuddin al-Tsani; dan, 
7] Lalu Gede Muhammad Fatihin.

Silsilah Keluarga TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid
Silsilah Keluarga TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid

Read More..

Silsilah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Silsilah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak bisa diungkapkan secara jelas dan runtut, terutama silsilahnya ke atas, karena catatan dan dokumen silsilahnya ikut terbakar ketika rumahnya mengalami musibah kebakaran. Namun menurut sejumlah kalangan bahwa asal usulnya dari keturunan orang-orang yang terpandang, yakni dari keturunan raja-raja Selaparang, sebuah kerajaan Islam yang pernah berkuasa di pulau Lombok. Disebutkan ia adalah keturunan Kerajaan Selaparang yang ke-17.

Pendapat ini agaknya paralel dengan analisa yang diajukan Sven Cederroth, seorang antropolog dari Swedia, yang merujuk pada kegiatan ziarah yang dilakukan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ke makam Selaparang pada tahun 1971, sebelum berlangsungnya kegiatan pemilihan umum [Pemilu]. Praktek ziarah ini memang biasa dilakukan oleh komunitas masyarakat Sasak, baik Waktu Telu, maupun Waktu Lima, untuk mengidentifikasi diri dengan leluhurnya. Disamping itu, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid secara terbuka tidak pernah menyatakan penolakan terhadap anggapan dan pernyataan-pemyataan yang selama ini beredai tentang silsilah ketumnannya [yakni, kaitan genetiknya dengan raja-raja Kerajaan Selaparang].
Read More..

Tempat Kelahiran TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang nama kecilnya Muhammad Saggaf dilahirkan pada hari Rabu, 17 Rabi'ul Awal 1316 [1904] di Kampung Bermi, Desa Pancor, Kecamatan Rarang Timur [sekarang Kecamatan Selong] LombokTimur Nusa Tenggara Barat. Kecamatan Selong terletak di bagian Timur Kabupaten Lombok Timur. Daerah ini memiliki ketinggian yang beragam antara 0-150 meter di atas permukaan laut.

Kondisi Lombok Timur, sebelum perang Asia Timur Raya, benar-benar berada dalam kondisi keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan. Kondisi ini diperparah dengan penerapan politik yang dikenal dengan politik Devide at impera oleh Belanda. Pemerintah Belanda menempatkan seorang Controleur, seorang Adspirant Controleur, seorang komisaris, seorang Klerk dan beberapa juru tulis untuk mengatur pemerintahan di Lombok Timur. Di bidang keamanan ditempatkan seorang Horf Agent Van Polisi yang dibanru oleh beberapa orang agen polisi.

Secara administratif, saat ini Lombok Timur disebut Onder Afdeeling Van Dost Lombok dengan kedudukan Controleur di Selong Di bawah Controleur terdapat lima distrik yang dipimpin oleh seorang Kepala Distrik. Kelima distrik tersebut terdiri dari: 1] Distrik Rarang Timur di Selong dijabat oleh Lalu Mesir; 2] Distrik Masbagik dijabat oleh Haji Moestofa; 3] Distrik Sakra dijabat oleh Mamiq Mustiarep; 4] Distrik Rarang Barat dijabat oleh Haji Kamaloedin; dan 5] Distrik Pringgabaya dijabat oleh Lalu Noersaid.
Pada wilayah Distrik yang agak luas seperti Distrik Masbagik dan Distrik Pringgabaya, diangkat seorang Assisten Distrik, yaitu Mamiq Rifa'ah sebagai Asisten Distrik untuk Masbagik Timur dan Mamiq Muhammad untuk Pringgabaya.

Di bawah wilayah distrik terdapat pemerintahan Desa yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Selanjutnya setiap Kepala Desa dibantu oleh beberapa orang keliang, juru arah, penghulu desa, dan beberapa orang pekasih [petugas irigasi]. 

Dalam menetapkan Kepala Distrik dan Kepala Desa,, Belanda menerapkan sistem pemerintahan feodal, yang mengutamakan figur orang-orang terkemuka dari golongan bangsawan [ningratj. Kebijakan ini diterapkan untuk menjamin kepatuhan terhadap kebijaksanaan Controleur.

Pendidikan bagi rakyat di Lombok Timur pada saat itu hanya terdapat dua jenis sekolah yang sangat terbatas. Di tingkat desa terdapat sekolah desa [Volkschool] sampai kelas III, sementara di tingkat kedistrikan terdapat Vervolkschool yang merupakan lanjutan sekolah desa sampai kelas V. Vervolkschoal ini hanya terdapat di Selong, Masbagik, Sakra dan Pringgabaya.

Disamping dua bentuk sekolah diatas, terdapat juga sekolah dasar berbahasa Belanda yang dikelola oleh swasta, yakni oleh yayasan "Anjah Sasak" di bawah asuhan Dokter Soejono. Namun sekolah ini hanya diperuntukkan bagi golongan yang mampu.
Read More..

Selasa, 01 Oktober 2013

Berharap Pada Nahdatul Wathan

Nahdatul Wathan. or.id-Ketika penulis membuka kembali koleksi Tabloid “Sinar Lima” edisi ke-8 masa edar Maret 2012, banyak kesan dan harapan para tokoh Nasional kepada organisasi Nahdlatul Wathan. Peran NW terhitung sejak lahirnya NWDI di NTB memang tidak diragukan lagi. Mengingat usianya yang menginjak 78 tahun, lebih tua dari usia Republik ini, NW punya saham besar membawa perubahan dan pembaharuan terutama di bagian tengah dan timur Indonesia.
Dalam edisi itu merilis seorang KH. Dr. Saifuddin Amsir, MA ulama kharismatik Betawi berharap NW ke depan tanggap dalam mengantisipasi maraknya alira-aliran yang menyimpang. “NW perlu ambil bagian dalam dakwah meluruskan aliran atau faham-faham yang melenceng dari ajaran Islam,” ungkap beliau. Pesan senada disampaikan oleh Ketua Komisi fatwa MUI Pusat, KH. Dr. Mahruf Amin bahwa pengembangan NW terutama ke wilayah Indonesia Timur yang minoritas muslim harus gigih.
Di samping untuk mengislamkan masyarakat, sekaligus mendakwahi Muslim sendiri yang masih banyak awam. Muallim KH. Syafi’i Hazami rahimahullah, guru dari para Kiyai dan Habaib Jakarta menyebut Hamzanwadi sebagai allamah dan mengapresiasi kiprah NW di tanah air.
Memang diakui beliau, secara lahiriah tidak pernah berjumpa, namun secara batiniah dan rohaniyah, beliau mengenal dekat Hamzanwadi. Kesan dan komentar yang paling menarik adalah apa yang ditulis oleh Dr. Abdul Muqsith Ghazali. Judul opini inipun diadopsi dari tulisannya. Banyak masukan dan kritikan konstruktif darinya.
Ia menyebut NW kurang menarik minat para peneliti untuk dibedah. Alasannya NW tidak digerakkan dari Ibu Kota, melainkan dari Lombok. Ini yang membuat kiprah NW sepi dari hingar bingar pemberitaan media Nasional. Dampaknya, banyak akademisi tidak mengenal apa dan bagaimana NW itu. Namun, alhamdulillah hari ini kader NW dan lainnya sudah mulai melirik riset tentang NW.
Dosen Pascasarjana UIN Jakarta ini menambahkan, dalam NW tidak ada dinamisasi pemikiran Islam. Aktifitas ijtihad dan gemuruh fatwa keislaman tidak tampak dalam NW. Itulah mengapa para peneliti nasional dan mancanegara tidak tertarik mengkaji NW. “Tidak ada dentuman pemikiran keislaman yang mendorong para peneliti untuk riset” katanya.
Memang diakui untuk urusan ijtihad dan fatwa, NW harus banyak belajar dari saudara tuanya yaitu Muhammadiyah dan NU dengan aktifitas Majelis Tarjih dan Bahtsul Masailnya.
Visi Besar di balik Nama NW
Dalam jurnal Komunik IAIN Mataram, Dr. Fahrurrozi menulis: “Al-Ismu Yadullu alâ al-Musammâ, nama menunjukkan identitas dirinya, ungkapan tersebut layak untuk memotret kiprah organisasi Nahdltul Wathan yang secara filosofis dari penamaannya menunjukkan identitas dirinya sebagai organisasi yang semakna dengan; pergerakean kebangsaan, pembangunan tanah air, pembelaan terhadap nasionalisme, pergumulan sosial, perkumpulan primordialisme, dan banyak arti lain yang bisa diinterpretasikan untuk sebuah mana dari NAHDLATUL WATHAN.
Pendiri organisasi ini memiliki semangat yang tinggi dan semangat nasionalisme yang kuat untuk terus membangun negara dan bangsanya dengan tidak melabelkan nama Islam dalam organisasi yang didirikannya.
Padahal Guru Besar beliau Maulana Syaikh Muhammad Hasan al-Masyyath memberikan nama organisasi yang diusulkan oleh muridnya ini dengan dua pilihan nama, Nahdlat al-Din al-Islam li al-Wathan atau Nahdlat al-Islam li al-Wathan. Kecerdasan dan kebesaran jiwa bagi sosok TGKH.M.Zainuddin memutuskan nama organisasi yang dibangunnya menjadi Nahdlatul Wathan sebagai representasi keimanan untuk bergerak dalam wilyah yang sangat universal, bukan saja aspek Agama tapi lebih dari itu negara dan semangat kebangsaan.”
Penulis menangkap visi besar dari seorang Hamzanwadi dalam nama Nahdlatul Wathan. NW berarti kebangkitan tanah air. Kader-kader NW di manapun dia berada dan apapun profesinya, harus punya mimpi besar dan menitip saham untuk mewujudkan visi itu.
Beliau meniti kebangkitan bangsa ini melalui wadah yang dipilihnya untuk dirinya dan murid-muridnya. Visi untuk menyetir lokomotifperubahan dan kebangkitan melalui bidang Pendidikan, dakwah, dan sosial yang diinisiasinya.
Hamzanwadi memilih kalimat wathan (tanah air/bangsa) bukan Islam, menyiratkan pesan bahwa berjuang untuk kemajuan tanah air adalah tuntutan agama itu sendiri. Ummat Islam nusantara, wabil khusus benihan atau abituren NW, sebutan untuk kader NW, punya tanggung jawab moril terhadap masa depan bangsa ini. Kewajiban yang tak mungkin mereka bisa lari darinya atau antipati terhadapnya.
Dalam Pengantar yang Hamzanwadi sampaikan dalam Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru, beliau menyebut bahwa hari ini adalah “Abad Final, Abad Kebangkitan Ummat Islam Sedunia”. Seperti itulah prediksi para ulama kontemporer lain, bahwa Abad 14 Hijriah ini adalah abad kebangkitan ummat.
Indonesia sendiri adalah penyumbang terbesar penganut Islam di dunia. Artinya, Muslim Indonesia menanggung beban moril membangunkan ummat Islam dari tidurnya sebagai konsekuensi mayoritas. Termasuk juga di dalamnya abituren NW. Sulit mengharap Muslim dunia akan bangkit kalau Muslim Indonesia tidak bangkit. Inilah visi besar seorang Hamzanwadi.
Oleh karena itu, para abituren NW harus jeli menangkap visi besar di balik nama Nahdlatul Wathan. Terlebih lagi tujuan gerakan NW adalah li I’lai Kalimatillah wali Izzil islam wal Muslimin (Untuk menjunjung tinggi kalimat Allah, demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin). Sebuah tujuan yang agung dan teramat mulia.
Tidak ada niat lain dalam semua aktifitas NW, melainkan semata-mata demi Islam dan tidak ada yang dijunjung tinggi selain kalimat Allah, bukan kepentingan kelompok apalagi pribadi. Untuk itu kiprah NW harus menasional, bahkan mendunia demi tujuan tersebut. Di sini Hamzanwadi menegaskan, NW itu hanya wasilah (alat perjuangan) bukan ghayah (tujuan utama).
Baik sekali bila kita mengapresiasi masukan dari Abdul Muqhsit dalam Sinar Lima itu. Menurutnya NW ke depan harus mengiktiarkan hal berikut. Pertama, NW harus go international, tanpa menafikan keberadaan cabang NW di luar negeri, semua harus ditingkatkan. Kader NW harus hadir dalam forum-forum internasional dan menyuarakan Islam yang rahmatan lilalamin. NW harus berbicara isu nasional dan global, bahkan menjadi problem solver.
Kedua, ulama dan akademisi NW harus aktif memproduksi pemikiran bukan hanya mengkonsumsi pemikiran. Dengan cara ini, NW akan turut memberikan pengaruh terhadap corak pemikiran Islam nusantara, yang seolah redup pasca wafatnya pendiri.
Terbukti belum ada karya yang diakui dari ulama dan akademisi NW selain karya sang pendiri. Ketiga, NW harus lebih responsif dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. NW bisa saja tetap bermarkas di Lombok, tetapi alasan geografis bukan kendala NW untuk berperan dalam pemecahan masalah nasional.
Akhirnya kami ucapkan “Selamat HULTAH NWDI ke-78 di Anjani.” Semoga kiprah NW semakin mendunia seperti harapan Hamzanwadi dan kita semua  li I’lai Kalimatillah wali Izzil Islam wal Muslimin. 
H. Ahmad Zainul Hadi, MA (Dosen IAIH NW Pancor)

Read More..