Subscribe:
Tampilkan postingan dengan label Biografi Pendiri NW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Pendiri NW. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2013

Pengembaraan TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dalam menuntut Ilmu

A.    PENDIDIKAN FORMAL DI LOMBOK DAN BERGURU PADA KYAI LOKAL
Pengembaraan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid menuntut ilmu pengetahuan berawal dari pendidikan di dalam keluarga, yakni dengan belajar mengaji [membaca Al Qur’an] dan berbagai ilmu agama lainnya, yang diajarkan langsung oleh Ayahnya, Tuan Guru Haji Abdul Madjid. Pendidikan yang didapatkan dari Ayahnya ini, dimulai sejak berusia 5 tahun. Baru setelah berusia 9 tahun ia memasuki pendidikan formal pada sebuah sekolah umum yang disebut Sekolah Rakyat Negara [Sekolah Gubernemen] di Selong Lombok Timur.
Setelah menamatkan pendidikan formalnya pada Sekolah Rakyat Negara pada tahun 1919 M, ia kemudian diserahkan oleh ayahnya untuk belajar ilmu pengetahuan agama yang lebih luas lagi pada beberapa kiyai lokal saat itu, antara lain Tuan Guru Haji Syarafuddin dan Tuan Guru Haji Muhammad Sa’id dari Pancor serta Tuan Guru Abdullah bin Amaq Dulaji dari Kelayu Lombok Timur. Dari beberapa kyai lokal ini, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin selain mempelajari ilmu-ilmu agama dengan menggunakan kitab-kitab Arab Melayu, juga secara khusus mempelajani ilmu-ilmu gramatika bahasa Arab, seperti ilmu Nahwu dan Sharf.
Menjelang musim haji tahun 1341 [1923 M], Muhammad Saggaf yang saat itu telah mencapai usia 15 tahun, berangkat ke Tanah Suci Makkah dengan diantar langsung oleh ayah dan ibunya bersama tiga orang adiknya, yaitu: H. Muhammad Faishal, H. Ahmad Rifa’i dan seorang kemenakannya. Bahkan ikut serta dalam rombongan ini, salah seorang gurunya, yaitu Tuan Guru Haji Syarafuddin dan beberapa anggota keluarga dekat lainnya.
 
B.     BELAJAR DI TANAH SUCI MAKKAH
 Ketika sampai di Makkah Zainuddin Muda belajar pertama kali pada  Syeikh Marzuki, Syeikh Marzuki adalah seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. Ia sudah lama tinggal di Makkah dan mengajar mengaji di Masjidil Haram.
Beliau mempelajani ilmu sastra dengan spesifikasi syair-syair Arab kepada ahli syair terkenal di Makkah, yakni Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi. Pada saat itulah ia berkenalan dengan Sayyid Muhsin al-Palembani, seorang keturunan Arab kelahiran Palembang. Ternyata ia kemudian menjadi gurunya di Madrasah al-Shaulatiyah. Sayyid Muhsin juga pendiri Madrasah Darul Ulum yang saat itu amat terkenal di Makkah dan sebagian besar muridnya berasal dari Indonesia.
Dua tahun setelah terjadinya huru hara di Tanah Suci Makkah, stabilitas keamanan relatif terkendali. Pada saat itu Muhammad Zainuddin berkenalan dengan seseorang yang bernama Haji Mawardi dari Jakarta. Dari perkenalan itu, Zainuddin diajak untuk masuk belajar di sebuah madrasah legendaris di Tanah Suci, yakni Madrasah al-Shaulatiyah. Madrasah ini didirikan pada tahun 1219 H, oleh seorang ulama besar imigran India, yaitu Syaikh Rahmatullah Ibnu Khalil al-Hindi al-Dahlawi. Madrasah ini adalah madrasah pertama sebagai permulaan sejarah baru dalam dunia pendidikan di Saudi Arabia. Gaungnya telah menggema ke seluruh dunia dan telah menghasilkan banyak ulama-ulama besar dunia.
Muhammad Zainuddin masuk di madrasah ini, pada tahun 1345 H [1927 M], Madrasah al-Shaulatiyah di bawah pimpinan cucu dari pendirinya, yaitu Syaikh Salim Rahtnatullah. Petama kali masuk, ia diantar oleh Haji Mawardi dan langsung menghadap kepada Syaikh Salim Rahmatullah selaku pimpinan [Mudir/ Direktur]. Pada hari pertama masuknya, ia bertemu dengan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath yang nantinya akan menjadi gurunya yang hubungannya paling dekat. Di sana juga ia bentemu Syeikh Sayyid Muhsin al-Musawa, diantara temannya sewaktu belajan syair pada Syeikh Sayyid Amin al-Kutbi, yang ternyata juga sebagai salah seorang guru di madrasah ini.
Setiap thullab baru yang masuk, harus mengikuti tes masuk untuk menentukan kelas yang tepat dan cocok bagi thullab baru tersebut. Demikian juga dengan Muhammad Zainuddin, ia diuji juga terlebih dahulu. Dan secara kebetulan ia langsung diuji oleh Mudir al-Shaulatiyah sendiri, yaitu Syaikh Salim Rahmatullah dan Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath.
Akhirnya, Syeikh Hasan Muhammad al-Masysyath menentukannya masuk di kelas III. Padahal ilmu Nahwu-Sharaf yang belum dikuasai diajarkan di kelas II. Mendengar keputusan tersebut, ia meminta agar diperkenankan masuk kelas II, dengan alasan ingin mendalami mata pelajaran Nahwu-Sharaf. Walau pada awalnya Syeikh Hasan bersikeras dengan keputusannya, namun argumentasi Muhammad Zainuddin membuatnya berfikir kembali. Kemudian ia mengabulkan permohonan sang murid. Maka resmilah ia diterima di kelas II.
Ketekunannya dalam belajar membuahkan hasil. Beberapa orang gurunya mengakui ia tergolong murid yang cerdas. Syaikh Salim Rahmatullah selalu mempercayakan kepadanya untuk menghadapi Penilik Madrasah pemerintah Saudi yang seringkali datang ke madrasah itu, Penilik madrasah itu menganut faham Wahabi. Dan ia satu-satunya murid Madrasah al-Shaulatiyah yang dianggap menguasai faham Wahabi. Pentanyaan Penilik itu biasanya menyangkut soal-soal hukum ziarah kubur, tawassul kepada Anbiya’ dan Auliya’, bernazar menyembelih kambing berbulu hitam atau putih dan sebagainya. Dan ia selalu berhasil menjawab pertanyaan Penilik itu dengan memuaskan.
Ketekunannya dalam belajar dan bendiskusi juga diakui oleh salah seorang teman sekelasnya di Madrasah al-Shaulatiyah tersebut, yaitu Syaikh Zakaria Abdullah Bila, seorang ulama besar di Tanah Suci Makkah. Ia mengatakan: “saya teman seangkatan Syaikh Zainuddin, saya telah bengaul dekat dengannya beberapa tahun. Saya sangat kagum padanya. Dia sangat cerdas, akhlaknya mulia. Dia sangat tekun belajar, sampai-sampai jam keluar mainpun diisinya menekuni kitab pelajaran dan berdiskusi dengan kawan-kawannya.”
Prestasi akademiknya sangat membanggakan. Ia berhasil meraih peringkat pertama dan juara umum. Di samping itu, dengan kecerdasan yang luar biasa, ia berhasil menyelesaikan studinya dalam kurun waktu 6 tahun. Padahal lama belajar normal adalah selama 9 tahun, yaitu mulai dari kelas I sampai dengan kelas IX. Dari kelas II, ia langsung ke kelas IV. Tahun berikutnya ke kelas VI, dan kemudian pada tahun-tahun berikutnya secara berturut-turut naik ke kelas VII, VIII dan IX.
Dengan tingkat kecerdasan [IQ] yang sangat tinggi ini, Syaikh Zakaria Abdullah Bila mengatakan, “Syeikh Zainuddin itu adalah manusia ajaib di kelasku, karena kegeniusannya yang sangat tinggi dan luar biasa, saya sungguh menyadari hal ini. Syaikh Zainuddin adalah saudaraku, karibku, dan kawan sekelasku. Saya belum pernah mampu mengunggulinya dan saya tidak pernah menang dalam berprestasi dikala saya dan dia bersama-sama dalam satu kelas di Madrasah As-Saulatiyah Makkah.”
Lebih jauh Syaikh Zakaria menceritakan: “Pernah sehari sebelum ujian, saya mengambil sebuah kitab di perpustakaan secara diam-diam dan membawanya pulang Kitab itu hanya satu di perpustakaan, yang berisi mata pelajaran yang akan diujikan esok harinya. Hal ini saya lakukan dengan sengaja agar Syaikh Zainuddin tidak bisa menelaahnya, sehingga dalam ujian nanti dapat mengalahkannya. Ternyata keesokan harinya dalam ujian, dia benhasil menjawab semua, pertanyaan dengan sangat baik dalam bentuk syair [puisi] dalam bahasa Arab.”
Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid berhasil menyelesaikan studinya di Madrasah al-Shaulatiyah Makkah pada tahun 1351 H. [1933 M] dengan predikat istimewa [Mumtaz]. Predikat istimewa tersebut disertai pula dengan perlakuan yang istimewa dari Madrasah al-Shaulatiyah.
Ijazahnya ditulis tangan langsung oleh seorang ahli khat terkenal di Makkah saat itu, yaitu al-Khathath al-Syaikh Dawud al-Rumani atas usul dari Direktur Madrasah al-Shaulatiyah. Kemudian ijazah tersebut ditanda tangani oleh beberapa orang gurunya. Ijazah tersebut diserah terimakan kepadanya pada tanggal 22 Dzulhijjah 1353 H.
Setelah tamat di Madrasah al-Shauladyah, ia tidak langsung pulang ke Indonesia. Tetapi bermukim lagi di Makkah selama 2 tahun sambil menunggu adiknya yang masih belajar yaitu Haji Muhammad Faishal. Dua tahun ini dimanfaatkannya untuk belajar, antara lain belajar ilmu Fiqh kepada Syaikh Abdul Hamid Abdullah al-Yamani.
Dengan demikian, waktu belajar yang ditempuh di Tanah Suci Makkah adalah selama 13 kali musim haji atau kurang lebih 12 tahun. Berarti sampai pulang ke kampung halamannya, ia sempat mengerjakan ibadah haji sebanyak 13 kali.
Read More..

Pernikahan dan Keluarga Besar TGKH Abdul Madjid

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama hayatnya telah menikah sebanyak tujuh kali. Dari ketujuh perempuan yang pernah dinikahinya itu, ada yang mendampinginya sampai wafat, ada yang wafat terlebih dahulu semasih ia hidup dan ada juga yang diceraikannya setelah beberapa bulan menikah. Di samping itu, ketujuh perempuan yang telah dinikahinya itu, berasal dari berbagai pelosok daerah di Lombok, dan dari berbagai latar belakang. Ada yang berasal dari keluarga biasa dan ada pula yang berlatar belakang bangsawan, seperti istrinya yang bernama Hajah Baiq Siti Zuhriyah Mukhtar, berasal dari Desa Tanjung, Kecamatan Selong.
Adapun nama-nama perempuan yang pernah dinikahi oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, adalah: 1] Chasanah; 2] Hajah Siti Fatmah; 3] Hajah Raihan; 4] Hajah Siti Jauhariyah; 5] Hajah Siti Rahmatullah; 6] Hajah Baiq Siti Zuhriyah Mukhtar; dan, 7] Hajah Adniyah.
Selanjutnya dari ketujuh orang perempuan yang dinikahinya, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, hanya mendapatkan dua orang puteri, yakni Siti Rauhun dari perkawinannya dengan Hajah Siti Jauhariyah dan Siti Raihanun dari perkawinannya dengan Hajah Siti Rahmatullah.
Hajah Siti Jauhariyah adalah seorang perempuan yang tenkenal cantik, hingga pada masa gadisnya, onang sering menyebutnya sebagai “Kembang dari Kampung Jawa”. Disebut demikian karena ia adalah puteri dari perkawinan antara seorang wanita Selong yang bernama Masnah dan pria berasal dan Jawa yang bernama Abdurrahim. Abdurrahim adalah seorang muballigh yang mengembangkan ajaran Islam di Kampung Jawa. Tugas sehari-harinya adalah sebagai seorang pejabat pemerintah pada waktu itu.
Hajah Siti Jauhariyah dipersunting oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada usia yang sangat muda, yaitu ketika berusia 12 tahun. Setelah menikah pasangan ini tidak langsung tinggal serumah. Mereka baru tinggal serumah setelah Hajah Siti Jauhariyah berusia 19 tahun.
Pada tahun 1947, ketika Siti Jauhariyah telah berusia sekitar 20 tahun, ia dinyatakan positif hamil. Kehamilan ini disambut dengan senang dan gembira, karena setelah lama menikah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zaiuddin belum juga diberikan keturunan oleh Allah SWT. Ia bahkan pernah dikatakan mandul dan tidak akan mendapatkan keturunan.
Mendengar informasi kehamilan Siti Jauhariyah, Tuan Guru Kyai Muhammad Zainuddin segera datang ke rumahnya untuk menantikan saat-saat kelahiran anak pertamanya. Pucuk dicinta ulam tiba. Jabang bayi yang ditunggu-tunggu lahir dengan selamat dan berjenis kelamin perempuan. Ia kemudian diberi nama Siti Rauhun. Nama tersebut diambil dari bahasa Arab yang artinya “kegembiraan/ kenikmatan”.
Sedangkan puteri keduanya diberi nama Siti Raihanun, yang akrab dipanggil Ummi Raihanun. Sebagaimana disebutkan di atas, puteri kedua adalah buah dari perkawinannya dengan Hajah Siti Rahmatullah.
Siti Rahmatullah adalah puteri dan Guru Hasan, seorang imam khatib di Masjid distrik Rarang. Perkenalan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin dengan Siti Rahmatullah tenjadi ketika pada suatu hari ayahnya datang bersilaturrahmi ke rumah Guru Hasan di Rarang. Saat itulah ia mengutarakan keinginannya untuk menikahkan puteranya dengan puteri Guru Hasan.
Karena waktu itu Siti Rahmatullah masih sangat kecil dan belum mempunyai keinginan sama sekali untuk menikah, Tuan Guru Haji Abdul Madjid hanya berjanji akan menikahkan puteranya dengan Siti Rahmatullah. Semenjak itu hubungan di antara kedua keluarga ini terbangun dengan sangat erat. Setiap tahun Tuan Guru Haji Abdul Madjid bersilaturrahmi ke Rarang, demikian pula sebaliknya. Setelah mencapai usia yang cukup, barulah keduanya dinikahkan. Dan dari pernikahan ini kemudian lahir seorang puteri yang diberi nama Siti Raihanun.
Adapun dari istrinya yang lain, ia tidak mendapatkan keturunan, baik putra ataupun putri. Dan karena hanya mempunyai dua orang puteri yang bernama Siti Rauhun dan Raihanun, ia juga populer dengan sebutan “Abu Rauhun wa Raihanun”.
Beliau mengakui bahwa nama kedua puterinya diambil dari Al-Qur’an Surat Al-Waqi’ah ayat 89 yang berbuyi “Fa rauhun wa raiharnen wajannatu na’im”, [maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta sorga kenikmatan].
Dari kedua orang putrinya, ia mendapatkan banyak cucu dan keturunan. Dari Siti Rahun ia memperoleh enam orang cucu, yaitu: 1] Siti Rahmi Jalilah; 2] Syamsul Lutfi; 3] M. Zainul Majdi; 4] M. Jamaluddin; 5] Siti Suraya; dan, 6] Siti Hidayati.
Sedangkan cucunya yang lalir dari Siti Raihanun, sebanyak tujuh orang putra dan putri, yaitu: 1] Lalu Gede Wiresakti Amir Murni; 2] Lale Laksemining Puji Jagat; 3] Lalu Gede Syamsul Mujahidin; 4] Lale al Yaqutunnafis; 5] Lale Syifa’un Nufus; 6] Lalu Gede Zainuddin al-Tsani; dan, 7] Lalu Gede Muhammad Fatihin.

Keluarga Besar Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid



Read More..

Kepulangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid dari Tanah Air

Setelah selesai menuntut ilmu di Makkah dan kembali ke tanah air, Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid langsung melakukan safari dakwah ke berbagai lokasi di pulau Lombok, sehingga dikenal secara luas oleh masyarakat. Pada waktu itu masyarakat menyebutnya dengan sebutan “Tuan Guru Bajang”.

Semula, pada tahun 1934 mendirikan pesantren al-Mujahidin sebagai tempat pemuda-pemuda Sasak mempelajari agama dan selanjutnya pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H/22 Agustus 1937 mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) dan menamatkan santri (murid) pertama kali pada tahun ajaran 1940/1941.
Read More..

Kepemimpinan Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

 Kesuksesan perjuangan seseorang tokoh atau pemimpin banyak ditentukan oleh pola kepemimpinannya. Kearifan seorang pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya akan menentukan keberhasilan perjuangannya. Perjuangan dan kepemimpinan merupakan dua hal yang saling mengkait, karena perjuangan itu akan berhasil baik, apabila pola pendekatan yang dipergunakan dalam kepemimpinan itu baik. Disamping itu, kepemimpinan yang arif dan bijaksana akan menghasilkan keberhasilan perjuangan.

Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dikenal sebagai ulama besar di Indonesia karena ilmu yang dimiliki sangat luas dan mendalam. Demikian juga kharisma beliau sebagai sosok figur ulama demikian besar. Beliau adalah tokoh panutan yang sangat berpengaruh karena kearifan dan kebijaksanaannya.

Perjuangan dan kepemimpinan beliau senantiasa diarahkan untuk kepentingan umat. Penghargaan dan penghormatan yang diberikan kepada seseorang yang telah berjasa kepadanya terutama kepada guru-guru beliau diwujudkan dalam bentuk yang dapat memberikan manfaat kepada umat.

Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa penghargaaan beliau kepada mahaguru yang paling dicintai dan disayangi, asy-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath diwujudkan dalam bentuk Pondok Pesantren Hasaniyah NW di Jenggik, Lombok Timur. Penghargaan kepada mahagurunya asy-Syaikh as-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi diwujudkan dalam bentuk Pondok Pesantren Aminiyah NW di Bonjeruk Lombok Tengah, dan penghargaan kepada mahagurunya asy-Syaikh Salim Rahmatullah beliau sudah merencanakan untuk mendirikan sebuah Pondok Pesantren di Lombok Timur.

Pola kepemimpinan yang beliau contohkan di atas hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki wawasan ilmu yang dalam serta pemimpin yang memiliki kearifan dan kebijaksanaan. Demikian pula tentang pendekatan yang beliau lakukan selalu bernilai paedagogik dalam arti mengandung nilai-nilai pendidikan. Beliau tidak mau bahkan tidak pernah bersikap sebagai pembesar yang disegani. Beliau selalu bertindak sebagai pengayom yang berada di tengah-tengah jamaah dan senantiasa menempatkan diri sesuai dengan keberadaan dan kemampuan mereka. Demikian juga halnya di kala beliau memberikan fatwanya selalu disesuaikan dengan kondisi dan jangkauan alam pikiran murid dan santrinya.

Pembawaan dan sikap hidup beliau selalu menunjukkan kesederhanaan. Inilah yang membuat beliau selalu dekat dengan para warganya dan murid-muridnya dengan tidak mengurangi kewibawaan dan kharisma yang beliau miliki. Keluhan yang disampaikan para warga dan muridnya ditampung, didengar, dan dicarikan jalan penyelesaiannya dengan penuh kearifan dan kebijaksanaan dengan tidak merugikan salah satu pihak.

Untuk melanjutkan dan mengembangkan perjuangan Nahdlatul Wathan di masa datang, beliau sangat mendambakan munculnya kader-kader yang memiliki potensi dan militansi, serta loyalitas yang tinggi, baik dari segi semangat, wawasan, maupun bobot keilmuan.

Dalam banyak kesempatan beliau sering menyampaikan keinginannya agar murid dan santri beliau memiliki ilmu pengetahuan sepuluh bahkan seratus kali lipat lebih tinggi daripada ilmu pengetahuan yang beliau miliki. Demikian motovasi yang selalu beliau kumandangkan supaya murid dan santri beliau lebih tekun dan berpacu dalam menuntut ilmu pengetahuan, baik di dalam maupun di luar negeri.

Dalam menerima dan menghadapi para murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan, beliau tidak pernah membedakan antara yang satu dengan yang lain. Semua murid dan santri serta warga Nahdlatul Wathan diberikan perhatian dan kasih sayang yang sama besarnya, bagaikan cinta dan kasih sayang seorang bapak kepada anak-anaknya.

Yang membedakan murid dan santri di hadapan beliau adalah kadar keikhlasan dan sumbangsihnya kepada Nahdlatul Wathan. Dan, untuk membina dan memonitor kualitas kader Nahdlatul Wathan, beliau mengeluarakan wasiat dalam bahasa Arab, yang artinya:

“Dengan menyebut nama Allah dan dengan memujiNya semoga keselamatn tetap tercurah padamu, demikian pula rahmat Allah, keberkatan, ampunan dan ridhaNya.

Anak-anak yang setia dan murid-muridku yang berakal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisiku ialah yang paling banyak bermanfaat untuk perjuangan Nahdlatul Wathan. Dan sejahat-jahat kamu di sisiku ialah yang paling banyak merugikan perjuanganNahdlatul Wathan.

Karena itu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga, berjuanglah kemudian berjuanglah di jalan Nahdlatul Wathan untuk mempertinggi citra agama dan negara. Niscaya kamu dengan kekuasaan Allah Swt. Tergolong pejuang agama, orang shaleh dan mukhlish baik pada waktu sendirian maupun pada waktu bersama orang lain.

Semoga Allah membukakan pintu rahmat untuk kami dan kamu dan semoga ia menganugerahi kami dan kamu serta para simpatisan Nahdlatul Wathan masuk surga dan nikmat tambahan yang tiada taranya, yaitu melihat DzatNya dari dalam surga.”

Demikianlah, wasiat ini dikeluarkan setelah terlihat beberapa kader dari kalangan alumni Madrasah NWDI, dan mereka yang sudah dibiayai beliau untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi keluar dari garis perjuangan oraganisasi. Tidak taat pada kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh beliau.

Memang dalam rangka kaderisasi beliau banyak memberikan bantuan kepada alumni NWDI dan orang-orang lain untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi dengan nawaitu khusus dan perjanjian khusus pula, yaitu untuk setia membela dan memperjuangkan cita-cita NWDI, NBDI dan NW.

Alhamdulillah tidak sedikit diantara mereka yang benar-benar menepati janjinya dengan tulus. Sebaliknya ada juga yang khianat pada janjinya, tidak malu merobek-robek nawaitu pengirimannya. Eksistensi dan aplikasi dari wasiat ini menjadi tolok ukur kualitas dan kader ketaatan serta keihklasan kader-kader Nahdlatul Wathan.

Disamping itu, untuk mempertegas Wasiat Renungan Masa I dan II berbahasa Indonesia dalam bentuk puisi. Wasiat Renungan Masa ini berisikan nasihat, fatwa dan pedoman bagi warga Nahdlatul Wathan dalam berjuang.

Lahirnya wasitat-wasiat tersebut merupakan konsekuensi logis dari pola kepemimpinan beliau yang selalu menekankan hubungan guru dan murid. Beliau adalah figur pemimpin yang selalu menekankan agar tetap terjalin dan terpelihara hubungan antara guru dan murid. Menurut prinsip beliau bahwa tidak ada guru yang membuang murid akan tetapi kebanyakan murid yang membuang guru.
Read More..

Guru-guru Tuan Guru KH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid

Para guru yang mengajarkan al-Quran dan kitab Melayu di Lombok diantaranya adalah:

1.Tuan Guru KH. Abdul Majid
2.Tuan Guru KH. Syarafuddin Pancor Lombok Timur
3.Tuan Guru KH. Abdullah bin Amak Dujali Kelayu Lombok Timur.


Adapun para guru beliau di Madrasah ash-Shaulatiyah Makkah adalah:

1.Asy-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath
2.Asy-Syaikh Umar Bajunaid asy-Syafi’i
3.Asy-Syaikh Muhammad Said al-Yamani asy-Syafi’i
4.Asy-Syaikh Ali al-Maliki
5.Asy-Syaikh Marzuqi al-Palimbani
6.Asy-Syaikh Abubakar al-Palimbani
7.Asy-Syaikh Hasan Jambi asy-Syafi’i
8.Asy-Syaikh Abdul Qadir al-Mandili asy-Syafi’i
9.Asy-Syaikh Mukhtar Betawi asy-Syafi’i
10.Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari asy-Syafi’i
11.Asy-Syaikh Umar Hamdan al-Mihrasi al-Maliki
12.Asy-Syaikh Abdussattar ash-Shiddiqi Abdul Wahab al-Kutbi al-Maliki;
13.Al-‘Allamah al-Kabir al-Syeikh
14.Asy-Syaikh Abdul Qadir asy-Syibli al-Hanafi
15.Asy-Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi al-Hanafi
16.As-Sayyid al-Habib Muhsin al-Musawa asy-Syafi’i
17.Asy-Syaikh Khalifah al-Maliki
18.Asy-Syaikh Jamal al-Maliki
19.Asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Kalantani asy-Syafi’i
20.Asy-Syaikh Mukhtar al-Makhdumi al-Hanafi
21.Asy-Syaikh Salim Cianjur asy-Syafi’i
22.As-Syayid Ahmad Dahlan Shadaqi asy-Syafi’i
23.Asy-Syaikh Salim Rahmatullah al-Maliki
24.Asy-Syaikh Abdul Gani al-Maliki
25.As-Syayid Muhammad Arabi at-Tubani al-Jazairi al-Maliki
26.Asy-Syaikh Umar al-Faruqi al-Maliki
27.Asy-Syaikh Abdullah al-Farisi
28.Asy-Syaikh Malla Musa.

Jika diklasifikasikan guru-gurunya berdasarkan latar belakang madzhab yang berbeda, maka akan terlihat kategorisasi madzhab sebagai berikut: 11 orang bermadzhab Syafi’i, 6 orang bermadzhab Hanafi dan 11 orang bermadzhab Maliki.

Berdasarkan kategorisasi madzhab di atas terlihat jelas bahwa semua guru-guru beliau masih berada dalam satu landasan teologi yang sama, yakni faham Ahlussunnah wal Jama’ah. Dengan kata lain, bahwa tidak ada seorang pun gurunya yang menganut faham teologi yang berbeda, seperti Mu’tazilah, Syi’ah ataupun Wahabi.
Read More..

Jumat, 04 Oktober 2013

Kehidupan Ekonomi Keluarga Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Tuan Guru Haji Abdul Madjid termasuk salah seorang yang kaya di desanya. Kondisi ini menyebabkan status sosial dan ekonomi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak jauh berbeda dengan ayahnya. Setidaknya, ia mewarisi sebagian dari kekayaan yang ditinggalkan ayahnya.
Kondisi ekonomi Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid sejak awal menjadi rahasia umum, ia termasuk orang kaya di Pancor. Indikator kekayaannya dapat dilihat dari kepemilikan sawah ladang yang luas, kebun dan tanah pekarangan lainnya, serta sejumlah hewan ternak, disamping barang-barang perhiasan lainnya, seperti emas dan perak.
Walaupun ia termasuk golongan orang yang kaya, namun dalam kehidupan sehari-harinya bersama keluarga dijalani dengan pola kehidupan sederhana, tidak sombong, apalagi berpoya-poya, untuk tidak mengatakan memprihatinkan, terutama pada tahun-tahun yang sulit, yakni pada tahun 1940-an sampai dengan akhir tahun 1950-an.
Haji Husni Hamid, salah seorang anak angkatnya, menuturkan kondisi ini, ketika Hajah Fatmah [salah seotang istri Tuan guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid] yang biasa dipanggilnya mamik bini, sering menyuruhnya meminta uang kepada Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang biasa dipanggilnya Mamiq laki, untuk keperluan sehari-hari, seperti membeli beras, lauk pauk, dan sebagainya. Namun demikian, seringkali permintaanya tidak terpenuhi, karena Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak mempunyai uang. Karena tidak memiliki uang, ia suruh kesawah untuk memetik sayur mayur.
Pola hidup sederhana yang dijalani oleh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid bersama keluarganya ini disebabkan karena sebagian besar harta kekayaannya dialokasikan untuk kepentingan pembangunan gedung madrasah, pengadaan sarana danpra sarana madrasah, dan untuk pembiayaan operasional madrasah dalam bentuk syahriyyah [gaji] guru-guru setiap bulannya.
Singkatnya, sebagian besar kekayaan yang dimiliki sampai akhir hayatnya dialokasikan untuk pengembangan perjuangan Nadlatul Wathan, baik untuk pengembangan Sumber Daya Manusia [SDM], seperti pemberian beasiswa bagi kader-kader Nadlatul Wathan serta memberikan bantuan dan fasilitas untuk pembukaan cabang-cabang Nadhatul Wathan di berbagai daerah di Indonesia.
Read More..

Rabu, 02 Oktober 2013

Pola TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid dalam mendidik Putrinya

Sebagai seorang ayah, Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin berusaha mendidik puteri-puteri dengan penuh kasih sayang dan perasaan lemah lembut. Pola ini agak berbeda Pola Mendidik Putrinya dengan pola yang diterapkan oleh Tuan Guru Haji Abdul Madjid kepadanya, yang cenderung keras dan tegas. Sekalipun puteri-puterinya dianggap melakukan kesalahan, ia berusaha untuk menegurnya juga dengan lemah lembut.

Sebagai ilustrasi, ketika Siti Rauhun sekolah di Muallimat Tsanawiyah Nahdlatul Banat, ia pernah pergi bersama teman-temannya ke Labuhan Haji Lombok Timur. Jarak antara Labuhan Haji dengan Selong sekitar 5-7 kilometer. Karena jaraknya yang cukup jauh, maka ia dan teman-temannya menggunakan dokar. Mereka pergi ke Labuhan Haji hanya untuk melihat pohon "Ndes". Buah ini jarang ditemui di Pancor, sehingga mereka pun ingin melihat buah ini di daerah Labuhan Haji.

Saat Siti Rauhun menaiki dokar bersama-sama teman-temannya menuju Labuan Haji, ditengah perjalanan ada orang yang mengenalinya. Kemudian orang itu melaporkan kejadian tersebut kepada ayahnya. Keesokan harinya ia dipanggil ayahnya dan disuruh menghadap ke Pancor. Mendapat pesan itu, ia tidak mempunyai firasat apa-apa. Apalagi dengan firasat akan dimarahi oleh ayahnya.

Selanjutnya ia segera memenuhi panggilan ayahnya, ia diterima oleh ayahnya dengan baik. Dan oleh ayahnya, ia langsung diminta untuk mengurut kaki ayahnya. Saat ia sedang mengurut kaki ayahnya, tiba-tiba ayahnya bertanya dengan nada menyindir; "Rauhun, enak naik dokar, ya?" Mendengar sindiran tersebut, telinga Siti Rauhun seperti terasa disambar petir. Karena ia merasa bahwa ayahnya mengetahui kepergiannya ke Labuhan Haji. Belum sempat ia menjawab sindiran tersebut, ayahnya langsung melanjutkan ucapannya, "Saya khawatir, kalau terjadi sesuatu pada diri kamu di tengah jalan. Kalau-kalau kamu diculik orang, atau terjadi hal-hal lain yang tidak diinginkan".

Seluruh ucapan ayahnya itu, tidak satupun yang dijawabnya. la hanya terdiam sambil menundukkan kepala. Baginya, sebagai seorang anak yang patuh dan pemalu, petistiwa itu sangat terkesan di dalam hidupnya. Sindiran ayahnya itu bagaikan sebuah kemarahan, yang tidak boleh terulang lagi dalam perjalanan hidupnya. Dan memang sekali itulah ia merasa dimajrahi oleh ayahnya, karena berbuat sesuatu yang tidak pantas menurut pandangan ayahnya.

Selain itu, untuk melatih kedua putrinya, menjadi seorang anak yang berjiwa pemberani dan percaya diri, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin sering menampilkan kedua putrinya dihadapan orang banyak untuk latihan berpidato. Keduanya disuruh berdiri di atas meja atau di atas tumpukan pasir. Kemudian disuruhnya berbicara di hadapn tukang dan para pekerja atau jamaah yang bergotong royong mengangkul batu atau pasir untuk pembangunan madrasah yang didirikannya.

Pola didikan seperti itu, sangat dirasakan nilai positifnya oleh kedua putrinya, hingga sejakkecil sudah terbiasa berhadapan dan berbicara di muka umum. Dan hingga saat ini kedua putrinya merupakan pelanjut setia estafet perjuangan dan da'wah ayahnya, melalui organisasi Nahdlatul Wathan [NW] yang didirikan pada tahun 1943. Keduanya memang telah diwasiatkan untuk selalu selangkah dan seayun dan bersatu padu dalam melanjutkan perjuangan Nahdlatul Wathan yang telah tersebar dari berbagai penjuru nusantara ini.

Gambaran tentang harapan Tuan Guru kepada puterinya ini, dilukiskan dalam bait-bait syair yang khusus ditujukan untuk keduanya sebagai berikut:

Wahai Anakku Rauhun Raihanun
Tetapkan dirimu selangkah seayun
Membela NW turun temurun 
"PERTANGGA NAIKBERJENJANG TURUN" 

Read More..

Keluarga Besar TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama hayatnya telah menikah sebanyak tujuh kali. Dari ketujuh perempuan yang pernah dinikahinya itu, ada yang mendampinginya sampai wafat, ada yang wafat terlebih dahulu semasih ia hidup dan ada juga yang diceraikannya setelah beberapa bulan menikah. Di samping itu, ketujuh perempuan yang telah dinikahinya itu, berasal dari berbagai pelosok daerah di Lombok, dan dari berbagai latar Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selama hayatnya telah menikah sebanyak tujuh kali. Dari ketujuh perempuan yang pernah dinikahinya itu, ada yang mendampinginya sampai wafat, ada yang wafat terlebih dahulu semasih ia hidup dan ada juga yang diceraikannya setelah beberapa bulan menikah. Di samping itu, ketujuh perempuan yang telah dinikahinya itu, berasal dari berbagai pelosok daerah di Lombok, dan dari berbagai latar Hasan di Rarang. Saat itulah ia mengutarakan keinginannya untuk menikahkan puteranya dengan puteri Guru Hasan.

Karena waktu itu Siti Rahmatullah masih sangat kecil dan belum. mempunyai keinginan sama sekali untuk menikah, Tuan Guru Haji Abdul Madjid hanya berjanji akan menikahkan puteranya dengan Siti Rahmatullah. Semenjak itu hubungan di antara kedua keluarga ini terbangun dengan sangat erat. Setiap tahun Tuan Guru Haji Abdul Madjid bersilaturrahmi ke Rarang, demikian pula sebaliknya. Setelah mencapai usia yang cukup, barulah keduanya dinikahkan. Dan dari pernikahan ini kemudian lahir seorang puteri yang diberi nama Siti. Raihanun.

Adapun dari istrinya yang lain, ia tidak mendapatkan keturunan, baik putra ataupun putri. Dan karena hanya mempunyai dua orang puteri yang bernama Siti Rauhun dan Raihanun, ia juga populer dengan sebutan "Abu Rauhun wa Raihanun".

Belakangan, ia mengakui bahwa nama kedua puterinya diambil dari al-Qur'an Surat alWaqi'ah ayat 89 yang berbuyi il Fa rauhun wa raihanun wajannatu na'im", [maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta sorga kenikmatan].

Dari kedua orang putrinya, ia mendapatkan banyak cucu dan keturunan. 
Dari Siti Rahun ia memperoleh enam orang cucu, yaitu : 
1] Siti Rahmi Jalilah;
2] Syamsul Lufti; 
3] M. ZainulMajdi;
4] Jamaluddin; 
5| Siti Suraya; dan, 
6] Siti Hidayati.

Sedangkan cucunya yang lahir dari Siti Raihanun, sebanyak tujuh orang putra dan putri, yaitu : 
1] Lalu Gede Wiresakti Amir Marni; 
2] Lale Laksemining Puji Jagat 
3] Lalu Gede Syamsul Mujahidin; 
4] Lale al Yaqutunnafis 
5] Lale Syifa'un Nufus; 
6] Lalu Gede Zainuddin al-Tsani; dan, 
7] Lalu Gede Muhammad Fatihin.

Silsilah Keluarga TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid
Silsilah Keluarga TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid

Read More..

Silsilah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Silsilah Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid tidak bisa diungkapkan secara jelas dan runtut, terutama silsilahnya ke atas, karena catatan dan dokumen silsilahnya ikut terbakar ketika rumahnya mengalami musibah kebakaran. Namun menurut sejumlah kalangan bahwa asal usulnya dari keturunan orang-orang yang terpandang, yakni dari keturunan raja-raja Selaparang, sebuah kerajaan Islam yang pernah berkuasa di pulau Lombok. Disebutkan ia adalah keturunan Kerajaan Selaparang yang ke-17.

Pendapat ini agaknya paralel dengan analisa yang diajukan Sven Cederroth, seorang antropolog dari Swedia, yang merujuk pada kegiatan ziarah yang dilakukan Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ke makam Selaparang pada tahun 1971, sebelum berlangsungnya kegiatan pemilihan umum [Pemilu]. Praktek ziarah ini memang biasa dilakukan oleh komunitas masyarakat Sasak, baik Waktu Telu, maupun Waktu Lima, untuk mengidentifikasi diri dengan leluhurnya. Disamping itu, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid secara terbuka tidak pernah menyatakan penolakan terhadap anggapan dan pernyataan-pemyataan yang selama ini beredai tentang silsilah ketumnannya [yakni, kaitan genetiknya dengan raja-raja Kerajaan Selaparang].
Read More..

Tempat Kelahiran TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MADJID

Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang nama kecilnya Muhammad Saggaf dilahirkan pada hari Rabu, 17 Rabi'ul Awal 1316 [1904] di Kampung Bermi, Desa Pancor, Kecamatan Rarang Timur [sekarang Kecamatan Selong] LombokTimur Nusa Tenggara Barat. Kecamatan Selong terletak di bagian Timur Kabupaten Lombok Timur. Daerah ini memiliki ketinggian yang beragam antara 0-150 meter di atas permukaan laut.

Kondisi Lombok Timur, sebelum perang Asia Timur Raya, benar-benar berada dalam kondisi keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan. Kondisi ini diperparah dengan penerapan politik yang dikenal dengan politik Devide at impera oleh Belanda. Pemerintah Belanda menempatkan seorang Controleur, seorang Adspirant Controleur, seorang komisaris, seorang Klerk dan beberapa juru tulis untuk mengatur pemerintahan di Lombok Timur. Di bidang keamanan ditempatkan seorang Horf Agent Van Polisi yang dibanru oleh beberapa orang agen polisi.

Secara administratif, saat ini Lombok Timur disebut Onder Afdeeling Van Dost Lombok dengan kedudukan Controleur di Selong Di bawah Controleur terdapat lima distrik yang dipimpin oleh seorang Kepala Distrik. Kelima distrik tersebut terdiri dari: 1] Distrik Rarang Timur di Selong dijabat oleh Lalu Mesir; 2] Distrik Masbagik dijabat oleh Haji Moestofa; 3] Distrik Sakra dijabat oleh Mamiq Mustiarep; 4] Distrik Rarang Barat dijabat oleh Haji Kamaloedin; dan 5] Distrik Pringgabaya dijabat oleh Lalu Noersaid.
Pada wilayah Distrik yang agak luas seperti Distrik Masbagik dan Distrik Pringgabaya, diangkat seorang Assisten Distrik, yaitu Mamiq Rifa'ah sebagai Asisten Distrik untuk Masbagik Timur dan Mamiq Muhammad untuk Pringgabaya.

Di bawah wilayah distrik terdapat pemerintahan Desa yang dipimpin oleh seorang Kepala Desa. Selanjutnya setiap Kepala Desa dibantu oleh beberapa orang keliang, juru arah, penghulu desa, dan beberapa orang pekasih [petugas irigasi]. 

Dalam menetapkan Kepala Distrik dan Kepala Desa,, Belanda menerapkan sistem pemerintahan feodal, yang mengutamakan figur orang-orang terkemuka dari golongan bangsawan [ningratj. Kebijakan ini diterapkan untuk menjamin kepatuhan terhadap kebijaksanaan Controleur.

Pendidikan bagi rakyat di Lombok Timur pada saat itu hanya terdapat dua jenis sekolah yang sangat terbatas. Di tingkat desa terdapat sekolah desa [Volkschool] sampai kelas III, sementara di tingkat kedistrikan terdapat Vervolkschool yang merupakan lanjutan sekolah desa sampai kelas V. Vervolkschoal ini hanya terdapat di Selong, Masbagik, Sakra dan Pringgabaya.

Disamping dua bentuk sekolah diatas, terdapat juga sekolah dasar berbahasa Belanda yang dikelola oleh swasta, yakni oleh yayasan "Anjah Sasak" di bawah asuhan Dokter Soejono. Namun sekolah ini hanya diperuntukkan bagi golongan yang mampu.
Read More..