Setelah posisi kedua madrasah induk (NWDI dan NBDI) semakin mantap, ditambah berkembangnya cabang-cabang berbagai daerah, maka madrasah NWDI dan NBDI melakukan upaya-upaya pengembangan konstruktif dalam bidang kurikulum, jenjang dan jenis madrasah sesuai dengan perkembangan zaman.
Madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah yang disingkat NWDI adalah lembaga pendidikan agama pertama yang melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan klasikal di Pulau Lombok. Madrasah ini didirikan oleh Al-Magfurlah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pada tanggal 15 Jumadil Akhir 1356 H./17 Agustus 1937 M. Madrasah ini merupakan kelanjutan dari Pondok Pesantren Al-Mujahidin yang didirikan oleh Al-Magfurlah pada tahun 1934, sekembali beliau menuntut ilmu di Madrasah Sholatiyah Makkah A-Mukarromah.
Pendirian madrasah NWDI ini diinspirasi dengan kondisi masyarakat Lombok pada saat itu yang masih sangat minim pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran-ajaran agama. Di samping itu, juga dimotivasi dengan sistem pembelajaran yang beliau ikuti selama menimba ilmu di Madrasah Sholatiyah yang menggunakan sistem klasikal dalam pembelajaran. Menurut beliau, untuk mempercepat dan mengintensipkan pembelajaran agama secara terfokus dan terprogram maka pendekatan pembelajaran dengan sistem klasikal menjadi sangat penting.
Sistem pembelajaran dengan pendekatan klasikal ini merupakan hal baru bagi masyarakat Islam Lombok kala itu. Oleh karena itu, dalam pendidrian madarsah tersebut Maulana Syaikh banyak mendapat rintangan dan intimidasi dari berbagai pihak. Sampai-sampai beliau harus jum’atan ke Labuan Haji selama kurang lebih tinga tahun. Namun berkat kesabaran dan keyakinan beliau, seluruh rintangan itu, dapat teratasi dengan baik dan Madrasah NWDI dapat tumbuh dan berkembang. Pada tahun 1953 madrasah cabang NWDI telah berjumlah 66 buah yang didirikan oleh para abituren NWDI. Pesatnya perkembangan Madrasah NWDI inilah yang melatarbelakangi lahirnya organisasi Nahdlatul Wathan pada tanggal 1 Maret 1953. Organisasi Nahdlatul Wathan didirikan dengan tujuan untuk menngkoordinir, membina, dan mempertanggungjawabkan seluruh amal usaha yang didirikan dan dikelola oleh para abituren yang salah satunya dalam bentuk madrasah. Sejak diresmikan pendirian organisasi Nahdlatul Wathan, seluruh amal usaha yang dididrikan dan dikelola oleh abituren diberikan label Nahdlatul Wathan (NW), baik pada lembaga pendidikan, sosial, maupun lembaga dakwah Islamiyah. Samapi tahun 2008 ini lembaga pendidikan yang dikelola Nahdlatul Wathan berjumlah 902 buah dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi.
Sebagai ungkapan rasa syukur atas keberadaan Madarsah NWDI, Maulana Syaikh selaku pendiri NWDI mentradisikan untuk merayakan peringatan HULTAH NWDI. Peringatan HULTAH NWDI, di samping dimaksudkan sebagai eksperesi kesyukuran, juga sebagai media silaturrahmi nasional warga Nahdlatul Wathan karena pada setip kali HULTAH NWDI dirayakan maka jamaah Nahdlatul Wathan dari berbagai daerah di Nusantara akan berdatangan untuk menghadiri puncak perayaan HULTAH. Di samping sebagai media evaluasi dan refitalisasi program dan kegiatan organisasi Nahdlatul Wathan selama satu tahun berjalan.
Dalam Wasiat Renungan Masa pendiri NWDI menegaskan /Nahdlatul wathan ciptaan ayahda/Kuamanatkan kepada anakda/Dipelihara dan terus dibina/dan dikembangkan di Nusantra/. Untuk mewujudkan visi pengembangan Nahdlatul Wathan, perlu elemen-elemn yang dimiliki serta peluang yang tersedia dimanfaatkan secara cerdas. Sudah menjadi fakta bahwa sejak tahun 2003, Nahdlatul Wathan telah melibatkan diri dalam dunia politik paraktis. Memang secara organisatoris tidak. Tetapi sulit untuk memisahkan antara Nahdlatul Wathan dengan Partai Bintang Reformasi, khususnya di Nusa Tenggara Barat. Ya NW, ya PBR. Hal ini dapat dibuktikan dengan fakta yang ada di legislatif bahwa dari 30 orang anggota DPRD kabupaten/Kota dan Propinsi di Nusa Tenggara Barat dari Fraksi Partai Bintang Reformasi, 90 % merupakan kader Nahdlatul Wathan dan sisanya adalah simpatisan Nahdlatul Wathan. Jumlah yang tidak sedikit untuk mewarnai dinamika perpolitikan Nusa Tenggara Barat. Kehadiran kader-kader Nahdlatul Wathan dalam politik praktis harus dimaknai dalam persfektif melancarkan misi perjuangan Nahdlatul Wathan. Memang berpartai adalah identik dengan kekuasaan. Kekuasaan bukan hal yang tabu bahkan sangat penting untuk melanggengkan misi dakwah Nahdlatul Wathan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar