Subscribe:

Sabtu, 02 November 2013

Mengenang Syekh Yasin al-Fadani Sahabat Hamzanwadi

Mengenang Syekh Yasin al-Fadani

Syekh Muhammad Yasin Bin Muhammad Isa Al-Fadani lahir di kota Mekah pada tahun 1915 dan wafat pada tahun 1990. beliau adalah ulama besar yang pernah sekolah di Madrasah Shaulatiyyah. Beliau adalah pencetus ide berdirinya Madrasah Darul-Ulũm sekaligus menjadi murid pertama madrasah itu.

Konon sebab tercetusnya ide membangun Madrasah tersebut disebabkan karena tindakan dan perlakuan direktur Madrasah Shaulatiyyah yang sangat menyinggung (hususnya) pelajar yang kebanyakan dari Asia Tenggara saat itu. Hal ini terbukti dengan berpindahnya 120 orang pelajar dari Shaulatiyyah ke Madrasah Darul-Ulum yang baru didirikan. Ini hampir tidak pernah dialami oleh Madrasah-madrasah yang baru dibuka mendapat murid yang begitu banyak sebagaimana Darul-Ulũm.

Dalam sebuah situs(1) dinyatakan bahwa pada tahun 1934, karena suatu konflik yang menyangkut kebanggaan nasional orang Indonesia, guru dan murid 'Jawah' telah keluar dari Shaulatiyah dan mendirikan madrasah Darul Ulum di Makkah.

Mengenai kesehari-harian beliau, dari cerita yang saya dengar dari ayah saya, yaitu Ustaz Sukarnawadi H. Husnuddu’at: “Syekh Yasin orangnya santai, sederhana, tidak menampakkan diri, sering muncul menggunakan kaos biasa, sarung, dan sering nongkrong di "Gahwaji" untuk Nyisyah (menghisap rokok arab)… tak seorangpun yang berani mencela beliau karena kekayaan ilmu yang beliau miliki… Yang ingkar kepada beliau hanyalah orang-orang yang lebih mengutamakan tampang zahir daripada yang bathin…

PUJIAN PARA ULAMA:

Syekh Zakaria Abdullah Bila teman dekat pendiri Nahdlatul Wathan yaitu Syekh M. Zainuddin pernah berkata, “waktu saya mengajar Qawa’idul-Fiqhi di Shaulatiyyah, seringkali mendapat kesulitan yang memaksa saya membolak balik kitab-kitab yang besar untuk memecahkan kesulitan tersebut. Namun setelah terbit kitab Al-Fawa’idul-Janiah karangan Syekh Yasin... menjadi mudahlah semua itu, dan ringanlah beban dalam mengajar.

Seorang ahli Hadits bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari pernah memuji dan menjuluki beliau sebagai kebanggaan Ulama Haramain dan sebagai Muhaddits.

Doctor Abdul Wahhab bin Abu Sulaiman (Dosen Dirasatul ‘Ulya Universitas Ummul Qura) di dalam kitab: الجواهر الثمينة في بيان أدلة عالم المدينة berkata: Syekh Yasin adalah Muhaddits, Faqih, Mudir Madrasah Darul-Ulum, pengarang banyak kitab dan salah satu Ulama Masjid Al-Haram...

Syekh Umar Abdul-Jabbar berkata didalam surat kabar Al-Bilad (jumat 24 Dzulqaidah 1379H/ 1960M): “...bahkan yang terbesar dari amal bakti Syekh Yasin adalah membuka madrasah putri pada tahun 1362H. Dimana dalam perjalanannya selalu ada rintangan, namun beliau dapat mengatasinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan…

Assayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Ahdal sebagai Mufti negeri Murawah Yaman saat itu, mengarang sebuah syiir yang panjang husus untuk memuji Syekh Yasin Al-Fadani Berikut saya nukilkan satu bait saja yang berbunyi:

أنت في العلم والمعاني فريد...... وبعقد الفخار أنت الوحيد
“Engkau tak ada taranya dalam ilmu dan hakekat, Dibangun orang kejayaan kaulah satu-satunya yang jaya”

Doctor Yusuf Abdurrazzaq sebagai dosen kuliah Ushuluddin Universitas Al-Azhar cairo juga memuji beliau dengan perkataan dan syiir yang panjang, saya nukilkan satu bait saja yang bunyinya:

أنت فينا بقية من كرام......لا ترى العين مثلهم إنسانا

“Engkau di tengah kami orang terpilih dari orang terhormat, tak pernah mata melihat manusia seumpama mereka.”
Ustaz Fadhal bin M. bin Iwadh Attarimi-pun berkata:
فيا طالب العلم لب نداء......ياسين وافرح بهذا القرى

“Wahai pencari ilmu sambutlah panggilan Yasin, bergembiralah dengan sajian yang ia sajikan,”

Doctor Ali Jum’ah yang menjabat sebagai Mufti Mesir dalam kitab Hasyiah Al-Imam Al-Baijuri Ala Jauharatittauhid yang ditahqiqnya, pada halaman 8 mengaku pernah menerima Ijazah Sanad Hadits Hasyiah tersebut dari Syekh Yasin yang digelarinya sebagai مسند الدنيا Musnid Addunia…

Al-Habib Assayyid Segaf bin Muhammad Assagaf seorang tokoh pendidik di Hadramaut (pada tahun 1373H) menceritakan kekaguman beliau terhadap Syekh Yasin, dan menjulukinya sabagai "Sayuthiyyu Zamanihi". Beliau juga mengarang sebuah syiir untuk memuji beliau, berikut saya nukilkan dua bait saja yang bunyinya sebagai berikut:

لله درك يا ياسين من رجل......أم القرى أنت قاضيها ومفتيها

في كل فن وموضوع لقد كتبا ......يداك ما أثلج الألباب يحديها

“Bagus perbuatanmu hai Yasin engkau seorang tokoh, dari Ummul Qura engkau Qhadi dan Muftinya.”
“Setiap pandan judul ilmu tertulis dengan dua tanganmu, Alangkah sejuknya akal pikiran rasa terhibur olehnya.”

Assayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki sebagai guru Madrasah Al-Falah dan Masjid Al-Haram, Syekh M. Mamduh Al-Mishri dan Al-Habib Ali bin Syekh Balfaqih Siun Hadramaut dan Ulama lainnya, pernah memuji karangan-karangan beliau…

Doctor Yahya Al-Gautsani bercerita, pernah ia menghadiri majlis Syekh Yasin untuk mengkhatam Sunan Abu Daud. Ketika itu hadir pula Muhaddits Al-Magrib Syekh Sayyid Abdullah bin Asshiddiq Al-Gumari dan Syekh Abdussubhan Al-Barmawi dan Syekh Abdul-Fattah Rawah.

H.M.Abrar Dahlan berkata: “yang membuat beliau lepas dari sorotan publikasi ialah karena ia telah menjadi lambang Ulama Saudi yang “bukan Wahabi” yang tersisa di Makkah. Walaupun begitu ia diakui juga oleh ulama Wahabi sebagai Ulama yang bersih dan tidak pernah menyerang kaum Wahabi… Seorang tokoh agama Najid dari Ibukota Riyadh (Pusat Paham Wahabi) yaitu Jasim bin Sulaiman Addausari pada tahun 1406H pernah berkata:

أبلغوا مني سلاما من صبا نجد......ذكيالأبي الفيض فداني

مسند الوقت بعيد عن نزول......هابط أما لما يعلو فداني

فدى أسر الروايات فلوتنطق......لقالت: علم الدين فداني


KARYA TULIS & MURID-MURID BELIAU:

Jumlah karya beliau mencapai 97 Kitab, di antaranya 9 kitab tentang Ilmu Hadits, 25 kitab tentang Ilmu dan Ushul fiqih, 36 buku tentang ilmu Falak, dan sisanya tentang Ilmu-ilmu yang lain… di antara karangan beliau adalah: al-Arba'un al-Buldaniyyah, al-Arba'un Haditsan Min Arba'ina Kitaban An Arba'ina Syaikhan, Bulug al-Amani, Arraudh al-Fatih, dan lain-lain...

Di antara murid-murid yang pernah berguru dan mengambil Ijazah sanad-sanad Hadits dari beliau adalah Al-Habib Umar bin Muhammad (Yaman), Syekh M. Ali Asshabuni (Syam), Doctor M. Hasan Addimasyqi, Syekh Isma’il Zain Alyamani, Doctor Ali Jum’ah (Mesir), Syekh Hasan Qathirji, Tuan Guru H. M. Zaini Abdul-Ghani (Kalimantan) dll…

Dan di antara murid-murid beliau yang di samping mengambil Sanad Hadits, mendapatkan Ijazah ‘Ammah dan Khasshah, juga diberi izin untuk mengajar di Madrasah Darul-Ulum adalah: H. Sayyid Hamid Al-Kaff, Dr. Muslim Nasution, H.Ahmad Damanhuri, H.M.Yusuf Hasyim, H.M. Abrar Dahlan, Dr. Sayyid Aqil Husain Al Munawwar, Ayah saya sendiri yaitu Ustaz Sukarnawadi KH. Husnuddu’at dll...

Ayah saya pernah bercerita, seseorang bernama H.Abdul-Aziz asal Jeruwaru Lombok NTB pernah mendatangi Syekh Yasin untuk meminta bai’at, izin serta restu untuk menjadi Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah… ketika itu Syekh Yasin memberi satu syarat, yaitu, ayah saya harus turut dibai’at, karena ayah saya di samping menjadi Guru yang lama mengajar di Madrasah Darul-Ulum, (dari tahun 1978 sampai 1990) juga sebagai salah satu dari sekian murid yang selalu diberikan bimbingan dan perhatian khusus… maka yang mendapat izin dari beliau untuk menjadi Mursyid Thariqat Naqsyabandiyyah yang berasal dari Lombok saat itu hanyalah Ayah saya dan H.Abdul Aziz...

Ayah saya sebagai warga, bahkan tokoh NW (ketika pulang ke lombok) menceritakan hal itu kepada pendiri Nahdlatul Wathan, yaitu Syekh M. Zainuddin, dan beliaupun tidak mengingkari hal tersebut, bahkan beliau merestui, memberikan Ijazah dan doa yang khusus serta harapan agar di samping itu tetap berjuang membela NW…

KEKERAMATAN BELIAU:

Seseorang bernama Zakariyya Thalib asal Syiria pernah mendatangi rumah Syekh Yasin Pada hari jumat. Ketika Azan jumat dikumandangkan, Syekh Yasin masih saja di rumah, ahirnya Zakariyya keluar dan solat di masjid terdekat. Seusai solat jum’at, ia menemui seorang kawan, Zakariyyapun bercerita pada temannya bahwa Syekh Yasin ra. tidak solat Jum’at. Namun dibantah oleh temannya karena kata temannya, “kami sama-sama Syekh solat di Nuzhah, yaitu di Masjid Syekh Hasan Massyat ra. yang jaraknya jauh sekali dari rumah beliau”…


H.M.Abrar Dahlan bercerita, suatu hari Syekh Yasin pernah menyuruh saya membikin Syai (teh) dan Syesah (yang biasa diisap dengan tembakaudari buah-buahan/rokok teradisi bangsa arab). Setalah saya bikinkan dan syekh mulai meminum teh, saya keluar menuju Masjidil-Haram. Ketika kembali, saya melihat Syekh Yasin baru pulang mengajar dari Masjid Al-Haram dengan membawa beberapa kitab… saya menjadi heran, anehnya tadi di rumah menyuruh saya bikin teh, sekarang beliau baru pulang dari masjid.

Dikisahkan ketika K.H.Abdul Hamid di Jakarta sedang mengajar dalam ilmu fiqih “bab diyat”, beliau menemukan kesulitan dalam suatu hal sehingga pengajian terhenti karenanya… malam hari itu juga, beliau menerima sepucuk surat dari Syekh Yasin, ternyata isi surat itu adalah jawaban kesulitan yang dihadapinya. Iapun merasa heran, dari mana Syekh Yasin tahu…? Sedangkan K.H.Abdul Hamid sendiri tidak pernah menanyakan kepada siapapun tentang kesulitan ini..!

Ketika ayah saya tamat Darul-Uulum (Aliah), beliau dilarang oleh Syekh Yasin untuk melanjutkan studinya di Universitas manapun, ayah saya diperintahkan untuk mengabdi di Darul-Ulum. Sedangkan mata pelajaran yang pernah dipegang oleh ayah saya sejak tahun 1978 hingga 1990 adalah Hadits, Fiqih, Tauhid, Tarikh dan Geografi. Di samping itu Syekh Yasin pernah berdo’a untuk ayah saya agar menjadi seorang penulis… kekeramatan do’a beliau dapat dirasakan sendiri oleh ayah saya. Walaupun sibuk dalam pekerjaannya sebagai guru dan pegawai di kantor, namun beliau selalu menyempatkan diri untuk menulis. Dan kini tulisan beliau sudah mencapai 24 judul. Yang sudah dicetak sampai saat ini baru 12 judul saja… Ayah saya berkata pada saya, “ini berkat do’a restu Syekh Yasin dan Syekh Zainuddin” Oleh karena itu Ayah saya berpesan agar kami di Mesir, juga mencari seorang guru yang benar-benar pewaris Nabi, agar mendapatkan barokah do’a restu serta barokah ilmunya...

H.Mukhtaruddin asal Palembang bercerita,      pernah ketika pak Soeharto sedang sakit mata, beliau mengirim satu pesawat khusus untuk menjemput Syekh Yasin. Ahirnya pak Soehartopun sembuh berkat do’a beliau. Kisah ini selanjutnya didengar sendiri oleh ayah saya dari Syekh Yasin.

Semoga Allah swt. merahmati beliau, amin ya Rabbal-Alamin….

________________________________________________________

(*)Ayahanda Ustaz Sukarnawadi H.Husnuddu’at dan buku “Riwayat Singkat” karangan H.M.Abrar Dahlan adalah rujukan utama saya dalam penulisan ini...

(*)Penulis pernah sekolah selama satu tahun di kelas 1 Madrasah Ibtida’iyyah Darul-Ulum Makkah, kemudian pindah ke Madrasah Syua’ul-Ma’rifah Aziziyyah Makkah…

(sumber : http://solahnawadi.blogspot.com/2007/06/yasin-padang.html )
Read More..

Kamis, 31 Oktober 2013

Radio Hamzanwadi (RHN) Live Streaming

Sebagai Organisasi Islam Terbesar di Nusa Tenggara Barat, Nahdlatul Wathan harus mampu menjadi Inspirator dan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan Masyarakat Nusa Tenggara Barat.

Namun dalam pelaksanaannya Nahdlatul Wathan memiliki keterbatasan dalam menyebarkan Dakwah. Beberapa terobosan baru sudah dilakukan salah satunya Melalui media udara yaitu Radio yang diberi nama Radio Hamzanwadi (RHN) yang mengudara pada gelombang 107 FM namun masih juga belum mampu meanjangkau Warga Nahdlatul Wathan yang berada jauh dari Pusat Nahdlatul Wathan. Seiring dengan waktu dan perkembangan, penyebaran Kader Nahdlatul Wathan kini hingga ke manca negara. dengan perkembangan tersebut RHN ternyata juga memberikan perhatian khusus kepada Warga Nahdlatul Wathan yang jauh dari Pusat Nahdlatul Wathan. Oleh karena itu untuk mengobati rindu Warga Nahdlatul Wathan yang berada sangat jauh dari Pusat Nahdlatul Wathan kini Radio Hamzanwadi membuat RHN Live Streaming yang beralamat di di http://rhn.hamzanwadi.ac.id sehingga Bisa di dengar oleh Warga Nahdlatul Wathan di mancanegara. RHN Live Streaming juga bisa di dengar di blog ini melaui Widget sebelah kanan.

 

Read More..

Rabu, 30 Oktober 2013

Asas - Asas Nahdlatul Wathan


Asas Organisasi Nahdlatul Wathan sejak didirikan sampai muktamar ke-8 tahun 1986 adalah Islam Ahlusunnah wal Jama’ah. sedangkan sejak muktamr ke-8 tahun 1986 Asas Organisasi Nahdlatul Wathan adalah Pancasila. Perubahan Asas ini dimaksudkan untuk menyesuaikan diri dengan peraturan yang berlaku di Negara Republik Indonesia, yaitu Undang-Undang No 8 tahun 1985. namun yang menjadi paham keagamaan adalah tetap Islam Ahlusunnah Wal jama’ah.

    Adapun tujuan Organisasi Nahdlatul adalah I’la’u kalimatillah ( meninggikan kalimatullah ) wa’izzul Islam wal Muslimin ( kejayaan Islam dan kaum Muslimin ) dan keselamatan serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sedangkan Lambang Organisasi Nahdlatul Wathan adalah “Bulan Bintang bersinar Lima “. Warna gambar putih dan warna dasar hjau. adapun makna lambang tersebut adalah :
1. Bulan melambangkan Islam
2. Bintang melambangkan iman dan taqwa
3. Sinar lima melambangkan rukun Islam
4. Warna gambar putih melambangkan Ikhlas dan istiqamah
5. Warna dasar hijau melambangkan Selamat dunia dan akhirat

Lambang Nahdlatul Wathan ini dicantumkan pada bendera, setempel dan atribut Oraganisasi lainnya 
Azas, Aqidah dan Tujuan

Nahdlatul Wathan sebagai organisasi kemasyarakatan melaksanakan segala amal usaha dan kegiatannya sesuai dengan azas organisasi. Sedangkan sebagai organisasi keagamaan islam, Nahdlatul Wathan menganut dan menerapkan syariat islam sesuai aqidahnya.

Azas dan aqidah organisasi merupakan landasan perjuangan organisasi dalam mencapai tujuannya. Pasal 2 Anggaran Dasar Nahdlatul Wathan menetapkan :

 Azas : Nahdlatul Wathan berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, keadilan social bagi Seluruh rakyat Indonesia.
 Aqidah : Nahdlatul Wathan beraqidah Islam Ahlusunnah Wal Jamaah ala Mazhabil Imam Syafii RA.
 Tujuan : Liâillai Kalimatillah Waizzil Islam Wal Muslimin dalam rangka mencapai keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Potensi dan Sasaran Pembinaan
    Dalam lingkungan Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Nusa Tenggara Barat potensi yang ada merupakan sasaran pembinaan yang akan dilaksanakan melalui serangkaian program dan rencana kerja.

 Dalam bidang keorganisasian, potensi yang dimiliki oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Wathan Nusa Tenggara Barat adalah :
1. PD NW Kota Mataram beserta 3 cabang.
2. PD NW Lombok Barat beserta 15 cabang.
3. PD NW Lombok Tengah beserta 12 cabang.
4. PD NW Lombok Timur beserta 20 cabang.
5. PD NW Sumbawa.
6. PD NW Dompu.
7. PD NW Bima.

Didalam tubuh organisasi NW terdapat badan-badan otonom yang seasas. Adapun Badan otonom yang ada pada Tingkat Wilayah di Nusa Tenggara Barat adalah :
1. Pimpinan Wilayah Muslimat NW;
2. Pimpinan Wilayah Pemuda NW;
3. Koordinator Wilayah HIMMAH NW;
4. Pimpinan Wilayah IPNW.

Dalam bidang pendidikan Potensi Pesantren/Madrasah Nahdlatul Wathan di Nusa Tenggara Barat mencapai 29 buah pada Tingkat TK/Raudatul Atfal atau sekitar 8,5 % dari 340 buah RA di NTB. Selanjutnya pada Tingkat Madrasah Ibtidaiyah mencapai 299 buah atau sekitar 58,5 % dari Seluruh Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) yang ada di NTB sebanyak 511 buah. Untuk Tingkat Tsanawiyah terdapat 202 buah madrasah atau 46,1 % dari Seluruh Madrasah Tsanawiyah Swasta di NTB sekitar 438 buah. Sedangkan pada Tingkat Madrasah Aliyah, terdapat 80 buah madrasah atau sekitar 41,6 % dari jumlah Madrasah Aliyah Swasta sekitar 192 Madrasah Aliyah Swasta di NTB. Adapun jumlah Pondok Pesantren NW mencapai 66 buah atau sekitar 27,8 persen dari jumlah Pondok Pesantren di NTB sebanyak 237 buah.

Secara keseluruhan jumlah pesantren/madrasah NW di NTB mencapai sekitar 676 buah atau sekitar 39,3 % dari 1718 madrasah. Jumlah tersebut tergolong cukup besar, lebih-lebih basis dukungan organisasi NW di Nusa Tenggara Barat khususnya di Pulau Lombok sangat luas dan merata di setiap wilayah.

Kebijakan Umum Pengurus Wilayah
  1. Membangun organisasi yang solid, kompak dan bersatu. yang akan diwujudkan melalui pelaksanaan konsolidasi organisasi, konsolidasi wawasan dan konsolidasi personil
  2. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan kegiatan pendidikan, sosial dan dakwah Nahdlatul Wathan.
  3. Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Ekonomi Nahdlatul Wathan.
  4. Membangun jaringan kerjasama (network) untuk kemajuan organisasi Nahdlatul Wathan serta menggalang dana perjuangan organisasi untuk menjamin pelaksanaan program secara berkelanjutan.

    Meningkatkan kesadaran hukum , posisi tawar (bargaining position), partisipasi    dan kontribusi warga Nahdlatul Wathan dalam Pembangunan Nasional dan Daerah.
Read More..